KONFRONTASI sudah di depan mata. Upaya mediasi Filipina sebagai pihak ketiga untuk mendamaikan Indonesia dan Malaysia nampak tak berujung positif. Seruan mengganyang negeri jiran pun meletup dari lidah sang pemimpin besar revolusi Presiden Soekarno.
Ya, hari ini, 27 Juli 1963 atau 52 tahun silam, Soekarno melayangkan salah satu pidatonya yang paling kesohor. Pidatonya ini tak lepas dari rasa geram sang proklamator terhadap kelakuan para demonstran Malaysia yang menggeruduk Kedutaan Besar Republik Indonesia di Kuala Lumpur sebelumnya.
Demonstran negeri tetangga yang antiIndonesia, menggeruduk KBRI, merobek foto Soekarno, serta menuntut Perdana Menteri Malaysia, Tunku Abdul Rahman untuk menginjak-injak lambang negara Indonesia – Garuda.
Demonstrasi itu merupakan dampak dari pernyataan Indonesia yang memilih sisi sebagai musuh terhadap Malaysia. Negara tetangga itu disebut Soekarno sebagai negara boneka bentukan Inggris, yang berniat mencaplok wilayah Kalimantan sebelah utara.
Seruan Soekarno itu berkelanjutan dengan dibentuknya Dwi Komando Rakyat (Dwikora) pada 3 Mei 1964 yang berisikan untuk memperhebat revolusi Indonesia, serta membantu perjuangan revolusioner rakyat Malaya, Singapura, Sarawak dan Sabah untuk menghancurkan Malaysia.