Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Kabut Asap Ibarat Malaikat Pancabut Nyawa

Banda Haruddin Tanjung , Jurnalis-Rabu, 09 September 2015 |12:19 WIB
Kabut Asap Ibarat Malaikat Pancabut Nyawa
Dinkes Pemprov Jambi bagi-bagikan masker menyusul kabut asap menyelimuti willayah itu (foto: Antara)
A
A
A

PEKANBARU - Sejak beberapa bulan terakhir, kabut asap mengepul di wilayah di Riau. Penyebabnya, kebakaran hutan dan lahan di provinsi itu ditambah asap kiriman akibat kebakaran hutan dan lahan yang juga terjadi di Jambi dan Sumatera Selatan.

Kabut asap, merupakan bencana tahunan yang menyelimuti Riau sejak 18 tahun terakhir. Pembukaan area hutan menjadi lahan perkebunan menjadi pemicu utama terjadinya kebakaran. Ongkos yang dikeluarkan dengan cara membakar lahan gambut jauh lebih murah dari pada membayar orang untuk membuka hutan menjadi lahan.

Kabut asap tak hanya menyebabkan kerugian materil di segala sektor, tapi juga membahayakan keselamatan warga yang menghirupnya. Tahukah Anda bahaya besar yang ditimbulkan karena menghirup asap berwarna putih kehitaman-hitaman itu?

Dokter spesialis paru dan pernapasan Riau, dr Munir Umar Sp.P, menjelaskan, bahaya sesungguhnya yang ditimbulkan oleh asap adalah kematian massal. Pasalnya, asap mengandung zat berbahaya seperti karbon monoksida, sulfur dioksida, nitrit dioksida, hidrokarbon, dan banyak lagi, yang efeknya menganggu oksigen dalam tubuh.

"Seperti karbon monoksida itu merupakan zat berbentuk gas yang sangat berbahaya untuk tubuh manusia. Jika menghirup dalam waktu yang cukup lama, zat ini membuat daya tahan tubuh dan kekebalan tubuh manusia melemah. Kemudian muncullah penyakit asma menjadi akut, infeksi saluran pernapasan akut. Jika ini terjadi yang dampaknya adalah kematian," terang dr Munir Umar saat ditemui Okezone di tempat praktiknya.

"Banyak kasus yang kita jumpai, penderita asma akut atau penderita penyakit paru mendadak pingsan kemudian meninggal mendadak. Ini karena zat dalam asap ini menyebabkan sirkulasi ogsigen dalam tubuh menurun. Karena kekurangan oksigen inilah yang menyebabkan kematian karena penderita sulit bernapas," tambah Munir.

Halaman:
      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement