PEKANBARU - Provinsi Riau merupakan daerah terparah terkena dampak kabut asap pada tahun ini bila dibanding provinsi lainnya di Pulau Sumatera dan Kalimantan. Ironisnya, ini tahun ke-18 kabut asap melanda provinsi itu.
Beragam dampak kabut asap, mulai dari terganggunya aktivitas penerbangan, proses belajar mengajar di sekolah, nelayan tidak dapat melaut karena jarak pandang yang cukup pendek, hingga mengganggu kesehatan warga.
Dalam sebulan terakhir, tercatat 15.000 lebih warga Riau terserang ISPA. Bahkan yang paling ekstrim, kabut asap menyebabkan warga kritis hingga merenggut korban jiwa.
Sejak dua tahun terakhir, sudah empat orang meninggal karena kabut asap. Lainem (45), seorang petani sawit di Simpang Pemburu, Kabupaten Rokan Hilir ditemukan dalam kondisi tak bernyawa di parit di lahannya yang terbakar pada 21 Juni 2015. Tak jauh dari jasadnya, suaminya Dulsan Purba (48) ditemukan kritis.
Kemudian Yurnalis. Pria 65 itu tahun ditemukan tewas pada 23 Juli 2015 di Desa Kebun Durian Kecamatan Gunung Sahilan, Kampar. Korban meninggal saat membersihkan lahan dengan cara dibakar. Korban diduga sesak napas akibat asap saat api membakar lahannya. Dia tak bisa menyelamatkan diri dan tewas terpanggang.
Sementara pada 2014, kabut asap juga merenggut korban jiwa. Korban pertama adalah M Adli (62). Korban ditemukan tewas di lahan miliknya di Desa Sungai Gayung Kiri Kecamatan Rangsang Kabupaten Meranti pada 10 Maret. Korban kehabisan oksigen.
Korban selanjutnya adalah petugas pemadam dari sebuah perusahaan. Korban meninggal pada 15 Maret. Korban semula melakukan pemadaman kebakaran di perkebunan Afdeling I Kecamatan Bukit Batu, Kabupaten Bengkalis. Pria 30 itu tewas tertimpa batang kayu dari pohon yang diduga akarnya sudah terbakar.
(Risna Nur Rahayu)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.