Kata dia, seiring dengan proses pemutusan kontrak dengan pengelola TPST Bantargebang, PT Godang Tua Jaya, melalui penerbitan surat peringatan pertama (SP1), pembangunan ITF diharapkan bisa mengurangi volume sampah DKI.
"Gini, seiring dengan keluarnya SP 1 sampai ditutup Bantargebang, tentunya kita berpikir harus ada lokasi lain yang nantinya bisa mengurangi volume sampah," lanjut dia.
Namun, dengan dibangunnya ITF bukan berarti pasokan buangan sampah Jakarta ke Bantargebang menjadi tak ada sama sekali. Melainkan bisa dikurangi secara signifikan.
"Mengurangi, karena tetap kan, Bantargebang masih punya kita asetnya, tetapi, tadi, konsepnya begini, kalau Bantargebang masih jalan, ITF terbangun di mana-mana, yang sampahnya 6.000an ton, sampahnya tinggal 250 ton," tutupnya.
(Awaludin)