Keputusan pengadilan itu dikeluarkan pada Senin 26 Oktober 2015. Polisi bentrok dengan ratusan pegawai Koza-Ipek, pendukung, dan oposisi pemerintah yang berkumpul untuk menunjukkan dukungan.
Polisi akhirnya terpaksa harus mengawal pihak yang ditunjuk untuk mengambil alih kepemilikan Koza-Ipek ke dalam gedung. Editor Bugun TV, Tarik Toros, terlihat beradu argumen dengan pemilik sementara yang tidak disebutkan namanya itu.
“Kami berhadapan dengan insiden yang tak dapat diterima. Erdogan seperti kebal terhadap hukum. Dia seperti sibuk membantai mereka yang berusaha menegakkan kebenaran,” ujar Haluk Koc, wakil pimpinan partai oposisi, seperti dilaporkan ABC News, Rabu (28/10/2015).
Partai-partai oposisi Turki mengutuk keras tindakan penyerbuan ini. Mereka menganggap ini adalah pelanggaran hukum oleh Erdogan untuk membungkam media yang kritis. Kelompok jurnalis juga mengecam tindakan ini.
“Pemerintah berusaha membungkam mereka yang kritis menjelang pemilu dimulai,” tulis Asosiasi Wartawan Ankara dalam sebuah pernyataan.
Tekanan kepada pers dan jurnalis asing meluas di Turki akhir-akhir ini menjelang pemilu. September 2015, harian Hurriyet yang beraliran sekuler dirusak oleh massa setelah harian tersebut menyerang Erdogan secara verbal. Pemerintah Turki bungkam atas serangkaian serangan ini.
(Hendra Mujiraharja)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.