Setelah insiden itu, seluruh rombongan meninggalkan lokasi kejadian.
Ketua rombongan yang juga guru pembina pecinta alam SMAN 1 Jamblang, Wawan Suwandi (35) mengatakan, rombongan PA SMAN 1 Jamblang semuanya 13 orang, di antaranya delapan orang anggota, tiga orang pembina, dan dua orang alumni.
“Pada saat itu kondisi hujan, kemudian dari rombongan kami ada yang memperbaiki tenda karena bocor. Posisi saya saat hujan lebat tidak satu tenda dengan mereka. Kemudian, mereka memilih berteduh ke musala dan gubuk karena tenda yang diperbaikinya belum selesai. Begitu ada petir mereka yang berada di musala dan gubuk terkena imbas aliran energi kuat sambaran petir,” ujar Wawan.
Setelah hujan reda, lanjut Wawan, dirinya bersama rombongan lainnya keluar tenda dan sudah melihat korban tergeletak di tanah. Dari situlah korban yang tergeletak di tanah dibawa ke musala dan upaya mencari bantuan. Ada sebagian rombongan yang melapor ke pos dan mendatangi Polsek Cigugur.
Terpisah, Kapolsek Cigugur, Ajun Komisaris Iman Supratikno mengatakan, insiden itu murni bencana alam. “Hasil penyelidikan, mereka memang benar sedang mengadakan kegiatan ekstrakurikuler pencinta alam. Puncak kegiatannya, yakni pelantikan observasi pengurus PA SMAN 1 Jamblang dan sudah mendapat izin dari orang tuanya masing–masing, saya berharap pihak pengelola segera mengurusi asuransinya,” tuturnya.
Dihubungi terpisah, Ani, orang tua Nurhalizah (salah satu korban selamat) mengaku mendapat firasat buruk ketika putrinya ikut acara perkemahan di Palutungan. Ketika itu ia sedang mencuci piring. Tiba-tiba, piring yang sedang dicuci jatuh sendiri dan pecah hingga melukai tangannya.
“Lagi nyuci, piring pecah. Dan, saat dibereskan tangan saya terluka. Entah mengapa pikiran saya langsung teringat pada anak saya yang sedang berkemah di Kuningan, namun saya masih anggap itu kebetulan saja,” cerita Ani
Sulit dipercaya oleh akal sehat, namun semua terjadi. Ibu Ani baru menyadari kalau pecahnya piring saat dicuci tersebut merupakan firasat musibah alam yang dialami anaknya. Ia mengetahui bencana itu setelah pihak sekolah memberitahukan melalui saluran telepon.
“Meski anak saya selamat dalam musibah tersebut, namun saya kaget bukan kepalang mendengar musibah tersebut,” jelasnya.
Hingga Minggu malam, anaknya masih menjalani perawatan intensif di RSUD Arjawinangun karena menderita sesak nafas dan luka bakar ringan. Namun, Ani masih dihantui ketakutan, karena kondisi kejiwaan anaknya tersebut takut terganggu. “Anak saya masih shock, dia trauma, apalagi ia merasa ada suara suara, saya takut kejiwaannya terganggu,” jelasnya.
Kondisi Nurhalizah memang sudah mulai membaik. Ia bahkan bisa menceritakan kejadian saat itu. Ia mengaku saat itu dirinya bersama orang lain yang berjumlah 10 orang sedang berteduh di saung karena hujan deras.
Keempat korban tewas sudah dimakam di tempat pemakaman umum di alamat masing masing rumahnya.
Sementara tiga korban luka yakni Farhat, Nurhalizah, dan Anisa yang sebelumnya menjalani perawatan RS Sekar Kamulyan Cigugur, sudah dirujuk ke RSUD Arjawinangun Kabupaten Cirebon dengan kondisi semakin membaik.
(Retno Wulandari)