Kebijakan Imigrasi Australia Berdampak Besar pada ASEAN

Rahman Asmardika, Okezone · Selasa 10 November 2015 18:24 WIB
https: img.okezone.com content 2015 11 10 18 1246944 kebijakan-imigrasi-australia-berdampak-besar-pada-asean-fhwb1e2ykp.jpg Direktur Jenderal Hubungan Multilateral Kemlu RI, Hasan Kleib (Foto: United Nation)

JAKARTA – Kebijakan imigrasi yang diterapkan Australia saat ini dinilai memberikan dampak yang cukup besar bagi kawasan Asia Tenggara, terutama bagi tujuan transit seperti Indonesia dan Malaysia. Oleh karena itu, Negeri Kanguru diharapkan membicarakan kebijakan itu dengan negara-negara terkait.

“Yang kita minta adalah mengingat dampak dari kebijakannya juga berdampak pada kawasan, mohon kiranya jika ada kebijakannya juga kita duduk share responsibility, border sharing,” ujar Direktur Jenderal Hubungan Multilateral Kementerian Luar Negeri (Kemlu) RI Hasan Kleib, saat bertemu kalangan media di Hotel Borobudur, Jakarta, Selasa (10/11/2015).

Saat ini, Pemerintah Australia menerapkan kebijakan yang membatasi masuknya imigran ke negerinya, contohnya seperti kebijakan zero entry, turn back the boat, dan penahanan pencari suaka di sebuah pusat fasilitas di pulau lepas pantai Australia.

Hasan mencontohkan kebijakan turn back the boat yang diberlakukan Australia memberikan dampak kepada Indonesia dan Malaysia.

“Sebagai contoh, turn back the boat itu kan dari negara asal bukan mau ke indonesia tapi mau ke Australia. Menuju ke sana kita tidak tahu kapan berangkatnya, tiba-tiba di tengah jalan dibalikkan, nah ke kita jadi beban,” tambah Kleib.

Saat ini, Australia menghadapi masalah dan kritik terkait imigran ilegal serta pencari suaka yang turut menyita perhatian para negara anggota ASEAN.

Pada Juni 2015, mantan Perdana Menteri (PM) Australia Tony Abbott mengakui telah menyuap kapten kapal yang membawa pengungsi ilegal untuk berputar kembali ke Indonesia. Sedangkan pada Senin 9 November, kerusuhan terjadi di fasilitas penahan pencari suaka Australia di Pulau Natal setelah seorang pengungsi ditemukan tewas.

Menteri Imigrasi Australia Peter Dutton mengatakan, kerusuhan terjadi setelah kematian seorang tahanan yang diidentifikasi sebagai warga Kurdi Iran yang melarikan diri pada Sabtu 7 November 2015. Jasadnya ditemukan di dasar jurang jauh dari pusat fasilitas penahanan.

(aji)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini