MENURUNKAN puluhan ribu pasukan berpengalaman di Perang Dunia II dengan senjata lengkap nan modern, tak serta merta membuat Inggris bisa menguasai Kota Surabaya bak membalikkan telapak tangan.
Dengan persenjataan seadanya, para petarung republik yang baru berdiri itu bertahan mati-matian. Kendati Kota Surabaya digempur habis dari darat, laut dan udara hingga menjadikannya lautan api, Pasukan Divisi Kelima India “Ball of Fire” pimpinan Mayjen Robert Eric Carden Mansergh, masih kesulitan menduduki kota sepenuhnya.
Perlawanan Tentara Keamanan Rakyat (TKR), Polisi Istimewa hingga laskar rakyat justru kian sengit. Kadang di beberapa sektor, justru pasukan Inggris yang terdesak. Korban berjatuhan di pihak Inggris semakin mengkhawatirkan, hingga pasukan Inggris menyebut pertempuran ini bak Inferno alias neraka.
“Rakyat Indonesia di Surabaya tak menghiraukan jatuhnya korban. Apabila satu jatuh, yang lain tampil maju ke muka. Bren (senapan mesin ringan Bren Gun) terus bicara, onggokan mayat di barikade menggunung, tetapi rakyat Indonesia datang lagi semakin banyak,” tulis Letkol A.J.F. Doulton di buku ‘The Fighting Cock’.