BLITAR - Doa lintas keyakinan digelar puluhan siswa Sekolah Menulis Indonesia (SMI) Kademangan, Kabupaten Blitar, untuk para korban insiden serangan kelompok teroris di Paris, Prancis.
Selain berdoa, para anak didik penulis buku "Jokowi si Tukang Kayu" Gatotkoco Suroso itu juga mengutuk aksi kekerasan di Paris sebagai kebiadaban kemanusiaan.
"Apa pun motifnya, penghilangan nyawa manusia tidak bisa ditoleransi oleh akal sehat, " ujar Fandria Aksioma selaku juru bicara siswa SMI kepada wartawan, Minggu (15/11/2015).
Doa bersama dipimpin Edward Gregorius Wawowalo selaku mentor kelas menulis. Para calon penulis diberi kesempatan melangitkan doa sesuai dengan keyakinan dan agama masing-masing.
Aksi penembakan dan pengeboman di Paris diketahui telah mengakibatkan lebih 120 nyawa warga sipil melayang. Penyerangan yang terjadi pada Jumat 13 November 2015 di Stadium State de France, Gedung Konser Bataclan Paris, diduga kuat dilakukan jaringan garis keras ISIS. Selain penembakan dan penyanderaan. Peneror juga melakukan serangan bom bunuh diri.
Menurut Fandria, aksi terorisme juga pernah melanda bangsa Indonesia. Bahkan, korban terbesar dari semua aksi kekerasan adalah warga sipil yang tidak berdosa.
"Kami berharap kebiadaban ini tidak akan terulang," katanya.
Direktur SMI Gatotkoco Suroso mengatakan, doa bersama anak didiknya dilakukan secara spontanitas. Doa bersama para siswa yang berlatar belakang suku dan agama yang berbeda ini juga menjadi pesan bahwa perbedaan tidak selalu beralasan untuk menciptakan perang.
"Dan agama bukan menjadi alasan pembenar untuk melakukan aksi kekerasan," ujarnya.
(Arief Setyadi )
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.