Saat ini umat Kristen di Irak merasakan diskriminasi, yang membuat mereka merindukan masa-masa saat diktator yang digulingkan Amerika Serikat (AS) pada 2003, Saddam Hussein, berkuasa.
“Tidak ada diskriminasi pada rezim sebelum ini, hal itu berubah setelahnya,” kata Abu Fadi, seorang penghuni kamp pengungsi Kristen Zayuna seperti dikutip dari Reuters, Jumat (25/12/2015).
“Digulingkannya rezim membuat kaum ekstremis yang sebelumnya ditekan, muncul ke permukaan, hal ini terlihat dari kedua sekte (Sunni, dan Syiah),” lanjut Abu Fadi.
Penganiayaan terhadap umat Kristen di Irak yang dilakukan oleh ISIS merupakan yang terburuk dalam sejarah Irak modern. Namun, sejak 2004, telah terjadi sejumlah penculikan, pembunuhan dan pengeboman terhadap gereja-gereja yang memaksa penganut Kristen untuk meninggalkan rumah mereka dan mengungsi.
Tercatat, populasi umat Kristen Irak yang berjumlah 1,3 juta jiwa pada 1997 menurun drastis menjadi hanya 650.000 jiwa saat ini. Kebanyakan dari mereka memilih untuk meninggalkan Irak dan pergi ke Eropa yang memberikan kemudahan bagi umat Kristen dari Timur Tengah untuk mendapatkan visa dengan dasar hak asasi manusia.
“Natal selalu ada di hati kami secara religius, tapi saya sedih karena secara sosial ini sudah tidak sama lagi,” kata Said Jalal, seorang pekerja sosial di Kamp Zayuna.
“Sebagian besar keluarga dan kenalan saya telah pergi atau terpaksa mengungsi.”
(Rahman Asmardika)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.