nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Ini Profil Raja Baru Kadipaten Pakualaman

Markus Yuwono, Jurnalis · Kamis 07 Januari 2016 14:05 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2016 01 07 510 1282807 ini-profil-raja-baru-kadipaten-pakualaman-ihkn0VqRHp.jpg foto: Antara

YOGYAKARTA - KGPAA Paku Alam X lahir di Yogyakarta pada Sabtu 15 Desember 1962. Nama kecilnya Raden Mas Wijoseno Hario Bimo. Beliau merupakan anak tertua KGPAA Paku Alam IX dengan GKBRAy A Paku Alam IX.

Dia menyelesaikan pendidikan dasar di SD B II Jakarta pada 1975, kemudian melanjutkan sekolah di SMP XI Jakarta dan SMA I Yogyakarta. Pada 1989, Raden Mas Wijoseno lulus dari jurusan Ekonomi Manajemen Fakultas Ekonomi

UPN Veteran Yogyakarta.

Dia menikah BRAy Atika Suryodilogo dikarunia anak laki-laki bernama BRMH Suryo sri Bimantoro dan BRMH Bhismo Srenggoro Kuntonugroho.

Dalam buku Jumenengan KGPA Paku Alam X menyebutkan, Suryodilogo memiliki hobi membaca, otomotif dan ‚Äétravelling. Dia juga aktif di sejumlah paguyuban, dan organisasi dalam bidang sosial, budaya, dan pemberdayaan ekonomi masyarakat.

Dirinya menjadi PNS pada 1991 sebagai penata muda di Dinas Tenaga Kerja Setwilda Yogyakarta. Pada 2011 dia didapuk menjadi Biro Administrasi kesejahteraan Rakyat dan Kemasyarakatan hingga sekarang.

Masih bersumber buku, sejak kecil Paku Alam X dekat dengan kakeknya Paku Alam VIII. Saat itu ia dibebaskan bermain apa saja, kecuali bermain plinteng (ketapel). Makna dari larangan itu agar tidak menyakiti sesama makhluk hidup, apalagi menganggap perbuatan menyakiti sebagai sebuah permainan.

Selain itu, kakeknya menasehati agar menghargai karya orang lain apapun bentuknya. Sementara ayahnya Paku alam IX lebih banyak mengajak berdiskusi dari pada memberikan nasihat. Dalam bahasa sehari menggunakan bahasa jawa Ngoko (bahasa jawa bukan halus seperti tradisi kaum priyayi).

Peristiwa yang paling berkesan saat diskusi dengan Paku Alam IX ialah pada 2012. Saat itu ayahandanya bertanya "akan berjalan ke manakah kadipaten Pakualaman ini?"

Dia memahami pertanyaan ini sebagai sebuah perintah untuk memikirkan keberlangsungan Kadipaten Pakualaman sebagai pemangku kebudayaan.

(ris)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini