nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Mengenal Tradisi "Nenjor" Suku Lembak di Bengkulu

Demon Fajri, Jurnalis · Minggu 10 Januari 2016 13:17 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2016 01 10 340 1284681 mengenal-tradisi-nenjor-suku-lembak-di-bengkulu-w0eaXgSM74.jpg Budaya Nenjor di Bengkulu (foto: Demon Fajri/Okezone)

BENGKULU - Indonesia memiliki berbagai keanekaragaman suku, adat istiadat, serta budaya. Seperti halnya, suku Lembak di Kota Bengkulu, Provinsi Bengkulu, yang memiliki tradisi budaya "Nenjor" (cukur rambut bayi) yang lebih dikenal masyarakat awam dengan sebutan aqiqah.

Tradisi Nenjor ini sama halnya dengan tradisi suku lainnya di Indonesia, yang mana tradisi ini merupakan salah satu bentuk pengorbanan orangtua dengan memotong hewan ternak, berupa kambing sesuai dengan syariat Islam.

Di suku Lembak, tradisi Nenjor yang merupakan salah satu bentuk pengorbanan serta sebagai penggadaian atau penebus seorang bayi yang dilahirkan masih digelar di berbagai kelurahan. Seperti, Kelurahan Tanjung Agung, Semarang, Tanjung Jaya, Dusun Besar, Panorama, Jembatan Kecil, Pagar Dewa, Sukarami dan Kandang, Bengkulu.

Semisal pelaksanaan Nenjor yang dihelat, oleh keluarga besar, M Zuber, HN, yang menenjor cucu keduanya atas nama Althaf Zaidan Zamzami, anak dari pasangan suami istri Abdul Aziz dan Yennery Hernitha, di Jalan Semangka, Kelurahan Panorama, Kecamatan Singaran Pati, Kota Bengkulu.

Kepada Okezone, salah satu tokoh masyarakat suku Lembak, Zulkarnain Dali, mengatakan, dalam prosesi Nenjor sesuai dengan syariat Islam, mesti dilaksanakan setelah bayi berusia 7 hari atau 14 hari.

 

Prosesi Nenjor, Suku Lembak, Bengkulu

Namun, kata dia, jika terbentur dengan keadaan, maka prosesi Nenjor dapat ditunda sebelum masa anak memasuki masa Aqil Baligh, yang diartikan jika anak-laki-laki sebelum dapat mimpi basah dan anak perempuan sebelum haid.

"Nenjor ini adalah kewajiban dari orangtua yang melahirkan. Pelaksanaan nenjor ini bisa dilakukan setelah anak berusia 7 hari, 14 hari atau sebelum masa aqil baligh anak," kata Zulkarnain, Minggu (10/1/2016).

Pelaksanaan Nenjor, lanjut Zulkarnain, dari orangtua mesti memotong hewan kambing, yang mana untuk anak laki-laki memmotong dua ekor kambing sementara anak perempuan satu ekor kambing.

Di suku Lembak, terang dia, pelaksanaan Nenjor diiringi tradisi berzanji atau sarapal anam atau berdzikir, dengan mengundang masyarakat setempat, yang disertai menabuh rabana.

"Dalam Nenjor di suku Lembak ini juga disertai berdzikir, dilanjutkan dengan berdoa untuk keselamatan anggota keluarga serta anak yang diaqiqah," tutur Zulkarnain.

Usai berdzikir, terang Zulkarnain, bayi yang diaqiqah dibawa dengan cara digendong, untuk menghampiri kakek dari sang bayi serta tamu undangan yang hadir untuk mencukur rambutnya.

Dalam prosesi Nenjor itu sendiri, kata Zulkarnain, sebelumnya bayi dirias serta mengenakan pakaian adat Bengkulu, serta adanya pembuatan pelaminan bayi di dalam rumah, bayi harus digendong pihak keluarga dan juga membawa cerano atau wadah yang berisikan lembaran daun sirih, serta sesajen lainnya.

"Saat pencukuran rambut setiap undangan diberi kesempatan untuk mencukur rambut sang bayi, serta dilanjutkan dengan memercikan tepung tawar ke kepala anak," jelas Zulkanain.

Setelah prosesi itu, terang dia, tamu undangan yang hadir mencicipi hidangan yang telah disediakan tuan rumah.

"Nenjor ini merupakan salah satu wujud syukur terhadap kelahiran sang anak kepada Allah SWT, dan pelaksanaan Nenjor ini juga diinginkan agar sang anak nantinya menjadi sosok yang soleh, berbakti kepada orangtua," demikian Zulkarnain.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini