Muara Sungai Tertutup, Warga Ulim Menderita karena Banjir

Salman Mardira, Okezone · Minggu 17 Januari 2016 12:31 WIB
https: img.okezone.com content 2016 01 17 340 1290121 muara-sungai-tertutup-warga-ulim-menderita-karena-banjir-ynfqGvut5x.jpg Foto: Salman Mardira/Okezone

BANDA ACEH - Kecamatan Ulim, Kabupaten Pidie Jaya, Aceh dalam beberapa tahun terakhir sangat sering dilanda banjir. Akibatnya warga selalu merugi tiap kali banjir datang, karena lahan pertanian dan perikanan mereka ikut tergenang.

Banjir yang kerap menggenangi sejumlah desa di Ulim bukan hanya akibat kerusakan hutan, tapi juga karena kuala atau mulut muara Sungai Ulim sudah tertutup total sejak 11 tahun lalu, atau setelah diterjang tsunami 26 Desember 2004.

Akibat tertutupnya mulut muara di Desa Grong-Grong Capa ini, membuat Sungai Ulim mudah sekali meluap dan kebanjiran ketika hujan deras.

Seperti yang terjadi hari ini, Minggu (17/1/2016). Setelah diguyur hujan semalaman, banjir pun menggenangi sejumlah desa di antaranya Dayah Leubue, Masjid Ulim Baroh, Geulanggang, Meunasah Bueng, Meunasah Pupu, Nanggroe Barat, Grong-Grong Capa, Tanjong Ulim dan lainnya. Meski tak ada korban jiwa, tapi aktivitas perekonomian sebagian warga lumpuh.

Ini kali kesekian Ulim dilanda banjir. Banjir terparah pernah menerjang kecamatan dengan 30 desa ini pada awal Desember 2015. Ribuan rumah tergenang kala itu. Ratusan orang mengungsi.

Menurut seorang warga, Razali, Sungai Ulim tak mampu lagi menampung debit air terlalu banyak, karena kualanya sudah tertutup. "Sehingga sirkulasi air sungainya sudah tidak lancar karena gak bisa langsung dibuang ke laut. Arusnya harus mengitari ke Kuala Pasi Aron dulu di (Kecamatan) Jangka Buya dulu yang jaraknya sampai 4 kilometer baru tembus ke laut," ujarnya.

Setiap kali banjir, dampaknya adalah tergenangnya lahan-lahan sawah warga yang sudah ditanami padi. Tambak-tambak ikan di desa-desa pesisir ikut terkena imbas.

Safri, seorang petani tambak di Meunasah Bueng mengatakan, tak terhitung lagi kerugian yang mereka alami akibat banjir. "Tahun lalu sudah mau panen, pas banjir tambaknya tergenang (udangnya) habis semua ke laut," sebutnya.

Senada juga diungkap Mursyidah, petani di Desa Meunasah Pupu. "Kemarin itu bibit padi sudah disemai begitu banjir habis semua, harus disemai balik (kembali-red). Banjir hari ini masih mending gak merendam semua sawah," sebutnya.

Selain berdampak pada banjir, tertutupnya mulut kuala Sungai Ulim juga berimbas serius pada puluhan hektare tambak warga. Mereka kesulitan untuk mengairi air asin dari laut ke tambak-tambaknya.

Ratusan nelayan di Kecamatan Ulim juga mengeluhkan tertutupnya mulut kuala Ulim. Pasalnya jika melaut mereka harus mengitari ke Kuala Pasi Aron di Kecamatan Jangka Buya, yang jaraknya tiga hingga empat kilometer. Sebagian besar mereka terpaksa harus menyandarkan kapalnya di kuala tersebut.

Warga di sana berharap Pemerintah Kabupaten Pidie Jaya segera merealisasikan janjinya membuka mulut muara Sungai Ulim atau kuala ulim tahun ini. "Warga kami sudah sangat menderita karena kondisi ini," sebut Rusdi Manyak, Imum Mukim di Kecamatan Ulim.

Wakil Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Kabupaten (DPRK) Pidie Jaya, Nazaruddin mengatakan, dirinya sudah berulang kali meminta pemerintah membuka kembali Kuala Ulim. "Karena itu sudah tertutup 100 persen," ujar politiks Partai NasDem.

Menurutnya tertutupnya mulut kuala Ulim sudah sangat meresahkan masyarakat terutama yang bermatapencarian petani, petambak maupun nelayan.

Sebelumnya Wakil Bupati Pidie Jaya, Said Mulyadi menyebutkan, pembangunan kuala Ulim beserta fasilitas dermaga ikannya sudah dimasukkan dalam dalam program kerja pemkab tahun 2016-2017. “Kita sudah mengusulkan alokasi dana ke APBA dan APBN sebersar Rp20 miliar," sebutnya.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini