KUALA LUMPUR – Malaysia menuduh Swiss melanggar protokol dan mengedarkan informasi yang salah atau hoax saat Jaksa Agung mereka pekan lalu menyatakan miliaran dolar AS dicuri dari BUMN Negeri Jiran yang menyeret Perdana Menteri Najib Razak.
Menteri Komunikasi Malaysia Salleh Said Keruak mengatakan pernyataan tersebut prematur dan tidak didasarkan fakta menyeluruh. “Sangat tidak biasa dan berlawanan dengan protokol normal ketika seorang pejabat senior sebuah negara berbicara di depan publik mengenai kondisi internal negara lain,” tegas Salleh, seperti dilansir The Guardian, Selasa (2/2/2016).
Teguran tersebut memanaskan kebuntuan hubungan diplomatik antara Swiss dan Malaysia. Negara penghasil jam tangan terbaik dunia itu merupakan salah satu pihak yang terlibat dalam investigasi korupsi di 1MDB (1 Malaysia Development Berhad).
1MDB merupakan perusahaan yang bergerak di bidang pembangunan strategis. Perusahaan tersebut dimiliki Pemerintah Malaysia. 1MDB terlilit utang besar meskipun didanai negara. Perdana Menteri Najib Razak diketahui menjadi dewan penasihat di perusahaan tersebut.
Sebuah pernyataan dari Kejaksaan Agung Swiss pada Jumat 29 Januari membuka kembali tuduhan korupsi otoritas Malaysia dalam penyelidikan penggelapan dana sebesar USD4 miliar atau setara Rp54,6 triliun dari 1MDB. Kejaksaan Agung Swiss menyatakan terdapat indikasi serius dana telah disalahgunakan.
Kejaksaan Agung Malaysia pekan lalu membersihkan Najib dari tuduhan korupsi. Kejagung menyatakan dana sebesar USD681 juta atau setara Rp9,3 miliar di rekening pribadi pria 62 tahun itu berasal dari sumbangan Kerajaan Arab Saudi untuk mendanai kampanye Pemilu 2013. Namun, para pengkritik Najib mengatakan dana tersebut diambil dari 1MDB.
(Wikanto Arungbudoyo)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.