nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Mesranya Indonesia-Thailand, Saling Dukung di PBB

Silviana Dharma, Jurnalis · Kamis 11 Februari 2016 16:34 WIB
https: img.okeinfo.net content 2016 02 11 18 1309737 mesranya-indonesia-thailand-saling-dukung-di-pbb-Y6oFyCaG4m.jpg Menlu Retno LP Marsudi bersama dengan Menlu Thailand di Kementerian Luar Negeri Indonesia (Foto: Silviana Dharma)

JAKARTA – Indonesia dan Thailand berjanji saling mendukung untuk menjadi anggota tidak tetap Dewan Keamanan (DK) PBB. Kesepakatan ini disampaikan dalam pertemuan bilateral di Gedung Pancasila Kementerian Luar Negeri RI, Pejambon, Jakarta Pusat, pada hari ini, Kamis 11 Februari.

Indonesia akan mendukung Thailand untuk duduk menjadi anggota tidak tetap DK PBB untuk periode 2017-2018, sedangkan Thailand akan mendukung Indonesia untuk keanggotaan periode 2019-2020.

Kemesraan antara Indonesia dan Thailand, menurut Menteri Luar Negeri RI Retno LP Marsudi, sudah berlangsung sejak lama. Hal itu tepatnya sejak terbentuknya ASEAN hingga rangkaian kerjasama regional dan bilateral lainnya.

"Sebelumnya juga ada kerjasama di bidang penerbangan. Pada 2014, Thailand membeli pesawat jenis CN-25 untuk kepolisian mereka. Sekarang mereka tertarik membeli lagi pesawat kita dari PT Dirgantara Indonesia. Pesawat pembuat hujan atau rain making jenis C212400," kata Juru Bicara Kemlu RI Armanantha Nassir, dalam konferensi pers di Jakarta, Kamis (11/2/2016).

Dalam kesempatan yang sama, kedua negara sepakat mempererat kerjasama di bidang maritim, ekonomi, dan menghadapi kejahatan transnasional.

Melalui pertemuan bilateral ini, Negeri Gajah Putih dan Merah Putih berharap bisa meningkatkan target ekonomi antarnegara yang sempat turun.

"Kami sangat menyayangkan tahun lalu ada penurunan nilai dagang dari USD15 juta di 2014, menurun drastis jadi USD12 juta per 2 November 2015," terang jubir yang akrab disapa Tata tersebut.

Karena itu, ada usulan dari Menlu Thailand Don Panudwina untuk menetapkan target pertumbuhan ekonomi bagi kedua negara sekira USD16 juta, USD18 juta, atau USD20 juta untuk periode 2016.

(dka)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini