Alvis Saracen FV603, Ranpur Pengusung Tujuh Jenderal
Ironisnya, Alvis Saracen yang merupakan ranpur angkut personel beroda enam itu bukannya terlibat dalam pertempuran gemilang, namun justru catatan duka mendalam, tak hanya buat TNI, tapi juga segenap individu yang mengaku setia pada Pancasila.
Sekilas mengulas ranpur buatan Alvis Car and Engineering Company tersebut, punya jarak operasional 400 kilometer tanpa mengisi bahan bakar lagi dengan dipersenjatai dua senapan mesin Bren Gun dan M1919 Browning kaliber 30 mm.
Ranpur berbobot 11 ton dengan panjang 4,8 meter serta lebar 2,54 meter ini, diperuntukkan guna membawa (maksimal) sembilan personel plus dua kru pengemudi.
Ranpur ini juga punya kemampuan “berlari” hingga 72 km per jam dengan dipasok mesin Rolls-Royce B80Mk.6A delapan silinder, serta dilengkapi pelindung baja Rolled Homogenous Armor (RHA) setebal 16 mm.
Namun di atas ranpur yang dibeli dari Negeri Tiga Singa itu pula, diusung seonggok tubuh tak bernyawa Jenderal Yani dan para pahlawan revolusi korban tragedi 30 September/1Oktober 1965 lainnya – termasuk DI Pandjaitan.
Konvoi ranpur Saracen dengan mengusung peti-peti jenazah berbalut bendera merah-putih itu, mengantarkan para pahlawan revolusi dari Markas Besar Angkatan Darat (MBAD), menuju Taman Makam Pahlawan Kalibata, tepat di hari peringatan TNI 5 Oktober 1965.
“Pemberangkatan dilepaskan dengan salvo penghormatan. Sepanjang jalan dari MBAD ke Kalibata, iring-iringan jenazah (diatas ranpur Saracen) berjalan perlahan disertai mendung dan hujan gerimis. Sepanjang jalan lautan rakyat menangis. Suasana hening, berat,” sebut Amelia Yani lagi di biografi Jenderal Yani.
(Randy Wirayudha)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.