“Agaknya roket itu belum ada dalam daftar yang dibawa dan bapak (Jenderal Yani) tanpa menunggu instruksi dari Jakarta, memutuskan untuk membelinya,” sambung Amelia Yani dalam buku tersebut.
Jerman Barat kemudian jadi destinasi berikutnya yang turut didampingi Pak Nas langsung, Brigjen Soeharto, serta atase militer Indonesia di Bonn, Jerman Barat, Kolonel Donald Isaac (DI) Pandjaitan.
Hubungan baik Kolonel DI Pandjaitan dengan otoritas militer Jerman Barat, turut berperan serta dalam pertemuan langsung Jenderal Nasution dengan Kanselir merangkap Menhan Jerman Barat kala itu, Franz Josef Strauss.
Kedekatan hubungan Kolonel Pandjaitan itu juga mencairkan suasana yang serius antara petinggi militer dua negara itu, hingga meyakinkan kesediaan Jerman Barat sebagai salah satu anggota Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO), untuk menjual alutsista kepada Indonesia yang tengah berseteru dengan anggota NATO lainnya, Belanda.
“Memang Jerman Barat anggota NATO. Indonesia bukan anggota NATO. Karena itu, Jerman Barat bebas menjual persenjataannya tanpa berbicara lebih dulu dengan anggota lain (Belanda),” ungkap Strauss dalam biografi ‘D. I. Pandjaitan: Gugur Dalam Seragam Kebesaran’.
Sementara perjalanan “Misi Yani” di Inggris, juga membuahkan hasil dengan peresmian penandatanganan kontrak sejumlah alutsista, termasuk kendaraan tempur (ranpur) lapis baja Alvis Saladin FV601 dan Alvis Saracen FV603.