GA berhasil menciptakan semacam purwarupa yang memiliki nama Advanced Concept Technology Demonstration (ACTD). Kemudian pihak militer AS membelinya untuk menjalankan berbagai tes. Pada April hingga Mei 2015, drone Predator ACTD mengikuti operasi percobaan di sekitar wilayah AS.
Dikarenakan militer Negeri Paman Sam menilai percobaan ini berhasil, drone Predator generasi awal ini digunakan di wilayah Balkan pada musim panas 1995. Pengoperasian Predator ACTD dilakukan oleh tim gabungan dari Angkatan Darat (AD) serta Angkatan Laut (AL) AS yang berada di bawah pengawasan Navy Joint Program Office for Unmanned Aerial Vehicles (program bersama AL untuk kendaraan tanpa awak).
Sejak 2001, ACTD kembali dikembangkan dan didesain ulang sehingga memiliki nama dan bentuk baru yaitu RQ-1 Predator yang digunakan khusus untuk operasi pengintaian. Namun pada 2002-lah MQ-1 lahir secara resmi ketika AU AS mulai mempersenjatai drone Predator untuk melakukan berbagai operasi.
Saat tahap percobaan, drone ini dites menggunakan misil jenis antitank Hellfire dan karena dianggap berhasil. AU mulai memasangkan berbagai misil jenis Hellfire untuk memastikan yang mana paling cocok untuk melaksanakan operasi penyerangan. Akhirnya, AU Negeri Paman Sam memilih mendampingkan “sang malaikat maut” ini dengan misil Helfire AGM-114K yang dianggap memiliki tingkat presisi yang tinggi.
Selain misil, fitur utama dari drone Predator adalah kamera, sensor serta laser yang dikontrol menggunakan satelit sehingga langsung memperlihatkan medan lokasi target. Berbagai fitur ini juga berguna untuk operator mengontrol gerakan drone serta sangat berguna untuk melakukan misi pengintaian.