Namun, terdapat kontroversial dalam penggunaan drone Predator, karena berbeda dengan senjata konvensional yang langsung dikendalikan oleh manusia yang melihat langsung, banyak yang menganggap penggunaan senjata tanpa awak ini dianggap seperti ‘seorang anak yang bermain video games’.
Akibat operator dari pesawat tanpa awak ini hanya melihat target dari layar kaca, tanpa melihat langsung di lokasi target ada atau tidaknya warga sipil, banyak asumsi penggunaan pesawat tanpa awak pada operasi militer dianggap kejam dan tidak berperikemanusiaan.
Terlepas dari kontroversialnya, beberapa negara masih menganggap penggunaan MQ-1 Predator cukup efektif. Lalu di luar dari harganya yang mahal, penggunaan pesawat tanpa awak ini diasumsikan mengurangi jumlah korban jiwa dari tentara. Harga per unit dari MQ-1 Predator ini cukup “wah” untuk sebuah senjata konvensional, yaitu USD4,03 juta atau sekira Rp53.518.400.000.
Harga puluhan miliar ini belum termasuk dari biaya senjata utama dari drone ini yaitu misil Hellfire-nya. Satu misil dari AGM-114 Hellfire juga memiliki harga yang mencengangkan yaitu dibanderol USD110 ribu atau sekira Rp1.460.800.000. Jadi, bisa dibayangkan untuk sekali operasi militer saja dengan menggunakan MQ-1 Predator dapat menghabiskan hingga miliaran rupiah dengan asumsi tidak hanya satu misil Hellfire yang digunakan.
Berikut ini spesifikasi singkat mengenai drone MQ-1B Predator (varian yang beroperasi hingga saat ini dan digunakan sejumlah negara):
(Emirald Julio)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.