Image

Nazaruddin Divonis Enam Tahun Penjara dan Denda Rp1 Miliar

foto: Dok Okezone

foto: Dok Okezone

JAKARTA - Mantan Bendahara Umum Partai Demokrat, Muhammad Nazaruddin divonis enam tahun penjara dan denda Rp1 miliar subsidair satu tahun kurungan penjara oleh Majelis Hakim Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jakarta.

Nazaruddin dinilai bersalah dalam kasus gratifikasi pembangunan Wisma Atlet SEA Games 2011 dan tindak pidana pencucian uang (TPPU).

"Mengadili menyatakan terdakwa Muhammad Nazaruddin terbukti secara sah melakukan tindak pidana korupsi dan pencucian uang sebagaimana dalam dakwaan kesatu primer, kedua primer dan dakwaan ketiga," kata Ketua Majelis Hakim Ibnu Basuki yang membacakan vonis di Pengadilan Tipikor Jakarta, Kemayoran, Jakarta Pusat, Rabu (15/6/2016).

(Baca juga: Jelang Vonis Hakim, Nazaruddin Bagikan Buku Yasin)

Nazar dinilai terbukti melanggar Pasal 12 huruf b Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo Pasal 65 ayat (1) KUHP.

Selain itu, Nazaruddin dinilai melanggar Pasal 3 Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang jo Pasal 55 Ayat (1) ke-1 jo Pasal 65 Ayat (1) KUHP.

Majelis pun mempertimbangkan hal yang memberatkan dan meringankan dalam menjatuhkan vonis Nazar. Untuk yang memberatkan, Nazar dinilai tak mendukung program pemerintah dalam pemberantasan korupsi.

"Untuk yang meringankan, Nazar berlaku sopan selama dipersidangan, telah menjadi terpidana dikasus sebelumnya, terdakwa mempunyai tanggungan keluarga, dan telah menjadi Juctice Collaborator," ujar Hakim.

Nazaruddin Dituntut 7 Tahun Penjara

Vonis hakim lebih rendah dari tuntutan Jaksa Penuntut Umum pada KPK. Sebelumnya, Jaksa menuntut Nazaruddin dengan hukuman tujuh tahun penjara dan denda Rp1 miliar subsidair 1 tahun kurungan. Selain itu, harta kekayaan Nazaruddin senilai lebih kurang Rp600 miliar dirampas untuk Negara.

Nazaruddin didakwa menerima gratifikasi dari PT Duta Graha Indah dan PT Nindya Karya untuk sejumlah proyek di sektor pendidikan dan kesehatan, yang jumlahnya mencapai Rp40,37 miliar. Saat menerima gratifikasi, Nazar masih berstatus sebagai anggota DPR RI. Nazar juga merupakan pemilik dan pengendali Anugrah Grup yang berubah nama menjadi Permai Grup.

Nazaruddin Dituntut 7 Tahun Penjara

Nazaruddin juga didakwa melakukan pencucian uang dengan membeli sejumlah saham di berbagai perusahaan yang uangnya diperoleh dari hasil korupsi. Pembelian sejumlah saham yang dilakukan Nazaruddin dilakukan melalui perusahaan sekuritas di Bursa Efek Indonesia menggunakan perusahaan-perusahaan yang tergabung dalam Permai Grup, kelompok perusahaan milik Nazar.

Berdasarkan surat dakwaan, sumber penerimaan keuangan Permai Grup berasal dari fee pihak lain atas jasanya mengupayakan sejumlah proyek yang anggarannya dibiayai pemerintah.

(wal)
Live Streaming
Logo
breaking news x