Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Kemal Pasha Ataturk, Bapak Sekularisme Republik Turki

Silviana Dharma , Jurnalis-Selasa, 26 Juli 2016 |09:02 WIB
Kemal Pasha Ataturk, Bapak Sekularisme Republik Turki
Ghazi Mustafa Kemal Pasha Ataturk. (Foto: Islamic History)
A
A
A

MENILIK sejarah pemerintahan Turki, ada satu sosok berpengaruh yang tidak boleh dilewatkan. Dialah Ghazi Mustafa Kemal Atatürk, bapak sekularisme pendiri Republik Turki yang modern dan demokratis.

Berangkat dari anak tukang kayu, Atatürk kecil dinamai seadanya, yakni Mustafa. Nama yang sangat umum bagi anak-anak Muslim di Turki. Dia mendapat nama Kemal yang berarti kesempurnaan dari guru matematikanya di sekolah menengah militer di Selanik, sebagai pengakuan atas kecerdasan akademiknya.

Sementara nama Atatürk didapatnya belakangan, saat dia menjabat jadi presiden pertama Republik Turki. Nama itu dianugerahkan oleh Majelis Agung Turki pada 24 November 1934 -berdasarkan hukum nama keluarga- yang artinya Bapak Bangsa Turki.

Terkait kudeta militer yang baru-baru ini terjadi di Turki. Perlu diketahui bahwa kekuasaan Atatürk pun diperolehnya dari upaya penggulingan paksa kekhalifahan Ottoman. Abdul Hamid II menjadi sultan terakhir dalam sejarah kejayaan Ottoman Turki, yang runtuh akibat keterlibatannya dalam perang dunia I.

Menempuh pendidikan di bidang militer, Atatürk menuai banyak kesuksesan dalam kariernya. Tercatat dia pernah ditempatkan berperang di Suriah dan membantu mempertahankan kedaulatan Palestina.

Bicara soal prestasi perang, dia juga layak dijagokan. Sebut saja di antaranya, Perang di Semenanjung Gelibolu (Gallipoli) pada 1915, yang melambungkan namanya. Jabatannya dinaikkan dari kolonel jadi Brigadir Jenderal. Atas keberhasilannya itu, dia memperoleh gelar "Pasha".

Pengaruh Atatürk pun semakin meluas. Ketika banyak pemimpin angkat tangan, pemuda kelahiran Salonika (sekarang Tesalonika di Yunani, dulu kawasan ini masih masuk teritori Ottoman Turki) itu menolak menyerah. Dia menggulingkan kekuasaan Ottoman dalam upayanya mempertahankan wilayah Turki yang terus menerus diinvasi negara asing. Saat itu, wilayah Turki tinggal sebesar sekarang.

Pada 1917 dan 1918, Atatürk dikirim ke barisan paling depan pertempuran Kaukasus untuk berperang melawan Rusia. Perang ini dimenangkan oleh pasukan di bawah komando Mustafa. Sekali lagi dia diberi posisi penting, yakni mengepalai pertempuran melawan pemberontakan Arab.

Pasca perang dunia I, posisi Turki semakin terjepit. Demi mempertahankan kedaulatan wilayah negara Eurasia itu, Mustafa lantas membangun gerakan nasional yang berujung pada perang merebut Kemerdekaan Turki, yang berpusat di Ankara.

Didukung militer dan pasokan keuangan serta senjata dari Rusia, Turki di bawah Atatürk akhirnya berhasil memukul mundur Armenia di Timur, Prancis dan Italia di selatan. Kekalahan juga didulang oleh pasukan Inggris Raya dan sekutu yang berusaha menduduki Istanbul.

Setelah perang berkepanjangan, habis biaya dan kelelahan, pada Juli 1923, Turki memperoleh kemerdekaan yang dicita-citakan. Atatürk didaulat menjadi presiden pertama.

Di bawah pemerintahan Atatürk, Turki berubah dari negara Kesultanan Utsmaniyah yang sangat islamis menjadi negara sekuler, yang membuat pemisahan jelas antara agama dan negara. Meskipun, secara de facto, bridge country barat dan timur itu dihuni oleh sebagian besar umat Muslim, hingga saat ini.

Dilansir dari History, Selasa (26/7/2016), Mustafa dinilai telah berjasa membawa Turki pada kemodernan. Kepemimpinannya juga terbilang baik dan stabil.

Meski begitu, tidak dapat dipungkiri, dia adalah sosok kunci yang memakzulkan kekhalifahan Ottoman, menutup semua pengadilan agama dan pesantren, melarang pemakaian jilbab di ruang publik, menghapus pelayanan hukum dan yayasan keagamaan.

Dia juga mencabut larangan meminum alkohol, mengadopsi banyak hal berbau kebaratan, seperti menggunakan penanggalan Gregorian. Alih-alih mengacu pada bulan, sebagaimana negara-negara Islam pada umumnya. Dengan demikian hari sabat atau libur di Turki berubah dari Jumat menjadi Minggu.

Kemal bahkan mengubah alfabet Turki dari huruf Arab menjadi huruf Romawi. Kiblat utama tidak lagi berpusat ke Saudi, tetapi di Turki. Kerajaan Islam mula-mula di Indonesia, seperti Samudera Pasai di Aceh pernah berkiblat pada negara bulan sabit ini.

Atatürk memerintah dengan tangan besi. Meski begitu dia sangat dihormati rakyatnya, dan mengemban jabatannya hingga ajal menjemput. Sayangnya, Atatürk tidak dikaruniai anak. Dia tewas di kamar tidurnya di Istana Dolmabahce di Istanbul pada 10 November 1938.

Suksesornya tak lain adalah perdana menterinya, Ismet Inonu. Sepeninggal dia, Turki pun mulai bergejolak kembali. Kaum Islam garis keras mencoba menguasai negara dan merubahnya menjadi berpusat lagi pada keislaman.

(Randy Wirayudha)

News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement