MOJOKERTO - Buku Lembar Kerja Siswa (LKS) yang disebut melecehkan simbol negara dibandrol dengan harga Rp3.500 hingga Rp4.000 oleh distributor. Buku LKS itu dijual langsung ke sekolah tanpa menggunakan perantara di Mojokerto.
"Saya tidak tahu perwakilannya di Mojokerto, karena dulu distributornya datang langsung ke sekolah. Harganya kalau tidak salah Rp3.500 atau Rp4.000 per bukunya, saya lupa pastinya," ungkap Karti, guru yang bertugas melakukan pengadaan di SMK Islam Walisongo, Kabupaten Mojokerto, Jumat (12/8/2016).
Karti mengaku tidak mengetahui secara detail sekolah mana saja yang menggunakan buku LKS tersebut. Sebab, ia tidak berkomunikasi dengan guru-guru lain terkait dengan pengadaan buku LKS yang digunakan di sekolahnya.
"Wah saya tidak tahu sekolah mana saja. Waktu itu distributornya juga tidak mengatakan sekolah mana saja yang mengambil buku LKS darinya," imbuhnya.
Dengan rencana ditariknya buku LKS tersebut, Karti mengaku akan segera berkomunikasi dengan pihak distributor. Sebab, buku LKS tersebut juga belum lama digunakan. Sejak awal tahun ajaran baru pertengahan bulan Juli lalu.
"Nanti setelah ditarik kami kembalikan lagi ke Distributor. Ini kan masih baru dan belum lama juga. Secepatnya kami akan menghubungi pihak distributor," terangnya.
Sementara itu, Kepala Sekolah SMK Islam Walisongo Kabupaten Mojokerto mengaku tak tahu menahu perihal pengadaan buk LKS itu. Menurutnya, pengadaan buku penunjang di sekolah yang dipimpinnya itu diserahkan sepenuhnya kepada pihak guru.
"Maka dari itu nanti kita rapatkan dulu bagaimana pasca dilakukan penarikan. Harapannya nanti bisa dapat ganti karena itu menjadi tanggungjawab percetakan. Namun itu saya kembalikan lagi ke guru saja," ungkapnya.
Dia pun berharap, hal ini menjadi pelajaran bagi pihak penerbit. Sehingga ke depan pihak penerbit lebih memperhatikan dalam menyusun buku dan hal seperti ini tidak akan terulang kembali. "Saya minta pengertian dari penerbit kalau bisa jangan ada gambar-gambar seperti itu. Karena ini untuk anak didik," tandasnya.
(Risna Nur Rahayu)