Mengenal Towani Tolotang, Masyarakat yang Terpaksa Memilih Hindu

Zulfikarnain, Okezone · Minggu 18 September 2016 06:16 WIB
https: img.okezone.com content 2016 09 18 340 1492054 mengenal-towani-tolotang-masyarakat-yang-terpaksa-memilih-hindu-xgg1HbMqUB.jpg Anggota komunitas Towani Tolotang di Makassar. (Foto: Zulfikarnain/Okezone)

MAKASSAR - Komunitas bernama Towani Tolotang yang bermukim di Kelurahan Amparita lama, Kecamatan Tellu Limpoe, Kabupaten Sidenreng Rappang Sulawesi Selatan, terpaksa beragama Hindu di KTP mereka. Meski kegiatan keagamaan mereka jauh berbeda dengan agama Hindu. 

Dari ibukota kabupaten, Pangkajene, Amparita hanya berjarak sekira 8 kilometer. Jarak tempuh dengan kendaraan roda dua ataupun empat paling lama bisa ditempuh selama setengah jam. Sementara dari Kota Makassar, Amparita hanya berjarak 231 km.

Secara kasat mata, tak ada ciri khusus yang membedakan komunitas ini dengan masyarakat sekitar yang mayoritas suku Bugis. Bahkan, mereka juga tetap menegaskan identitas dirinya selaku orang Bugis. Hanya saja, mereka punya kepercayaan berbeda dari warga lain yang mayoritas beragama Islam.

Menurut cerita Wa’ Eja, Tokoh Adat Tolotang, komunitas ini sebenarnya penganut aliran kepercayaan yang menyembah sesuatu yang tak nampak, mereka biasa menyebutnya Dewata Sewae. Namun pada tahun 1966, pemerintah tidak tidak menerima hal itu karena hanya mengakui lima agama, yakni Islam, Katolik, Protestan, Hindu dan Budha. 

Akibatnya, pemerintah memberi tiga pilihan ke warga Tolotang, karena hanya tiga agama yang menurut mereka dekat dengan kepercayaan Tolotang, yakni Islam, Kristen, dan Hindu. 

“Komunitas kami harus memilih salah satunya. Pemerintah setempat menawarkan agama Islam, Kristen, dan Hindu. Hasil kesepakatan, dipilihlah Hindu. Saat itu, kita resmi beragama di bawah naungan Hindu. Namun adat istiadat sebagai komunitas Tolotang tetap terjaga,” ujarnya Wa' Eja, dikutip di dokumen penelitian Kiprah Towani Tolotang di perpustakaan Provinsi Sulsel. Sabtu (17/9/2016). 

Aturan itulah yang akhirnya membuat komunitas Tolotang takluk. Mereka akhirnya memilih sebagai ‘orang Hindu’.

Dari penuturan Syamsurijal, peneliti yang sudah 10 tahun meneliti komunitas Towani Tolotang, tepat tanggal 4 Februari 1966, pemerintah setempat mengeluarkan keputusan krusial untuk Towani-Tolotang di Sidrap. Bupati Kabupaten Sidrap yang memimpin saat itu adalah Sapada Mapangile. T

“Pertama, tidak mengakui Tolotang sebagai agama tersendiri di kabupaten Sidrap. Kedua, setiap penganut Tolotang yang akan melakukan perkawinan, rujuk dan talak, harus dilakukan secara Islam.” ujar peneliti Litbang Departemen Agama Makassar ini, Sabtu (17/6/2016)

Usai mengeluarkan peraturan itu kata Syamsurijal, bupati memerintahkan pada seluruh kecamatan di Sidrap untuk melaksanakan aturan tersebut. Akhirnya komunitas Tolotang pun semakin terdesak.

“Aturan Bupati ini didukung oleh militer setempat. Dandim 14015 Sidrap mengeluarkan Radiogram, yaitu Nomor T 100/1966/27 September 1966 tentang kewajiban Towani-Tolotang memiliki salah satu agama. Meski aturan dari militer setempat ini tidak menyuruh untuk memilih Islam, namun jelas radiogram ini sama dengan menyuruh Towani-Tolotang tidak lagi pada posisi meyakini kepercayaan lokalnya” tutur Ijal.

Hingga sekarang, komunitas masih tetap berlabel hindu di KTP, jumlah penduduk komunitas ini mencapai 2000-an penduduk. Meski berlabel agama Hindu di tengah mayoritas penduduk muslim, mereka masih tetap berdampingan hidup damai.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini