Mirisnya, orang yang percaya dengan ajaran Kanjeng Taat Pribadi bukanlah kalangan menengah ke bawah melainkan berpendidikan seperti TNI-Polri. Bahkan, mantan anggota DPR, Marwah Daud yang memiliki gelar S3 pun menjadi salah satu pembelanya.
"Itu pertanda masyarakat yang sedang sakit atau mungkin dalam istilah menterengnya 'the sick nation'. Yang tidak lagi sanggup menggunakan nalar yang sehat menghadapi problematika kehidupan. Masyarakat yang ingin instan menyelesaikan persoalannya, ingin menjadi kaya tapi tidak mengikuti prosedur yang wajar," paparnya.
Dalam memilih guru spiritual, Malik mengimbau masyarakat untuk tidak mudah percaya dengan penggunaan sorban dan jubah yang identik dengan pakaian umat Islam di Makkah. Sebab, bisa saja mereka menggunakan simbol agama sebagai bentuk kamuflase. Apalagi, jika guru spiritualnya menggunakan cara aneh dalam pengajarannya.
"Jangan terpedaya dengan keanehan yang dimiliki seorang tokoh, sebab itu bukan pertanda dia dekat dengan Tuhan bisa saja dekat dengan setan. Dalam ajaran Islam ada istilah aulia urrahman dan sebaliknya aulia usyaitan. Jadi orang yang dikasihi Allah itu disebut aulia urrahman,tapi ada orang-orang yang punya kelebihan bukan dari Allah tapi dari setan. Makhluk jahat itu yang disebut aulia usyaitan," tutupnya.
(Arief Setyadi )