nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Suara Rakyat Filipina: Presiden Duterte Kasar tetapi Jujur

Silviana Dharma, Jurnalis · Sabtu 08 Oktober 2016 22:20 WIB
https: img.okeinfo.net content 2016 10 08 18 1509810 suara-rakyat-filipina-presiden-duterte-kasar-tetapi-jujur-9lRbs9UdI9.jpg Presiden Filipina Rodrigo Duterte. (Foto: Bullit Marquez-AP)

MANILA – Kinerja 100 hari pertama Presiden Filipina Rodrigo Duterte mendapat banyak sorotan dari dalam maupun luar negeri. Banyak negara barat, terutama Amerika Serikat mengecamnya sebagai pelaku pelanggaran HAM berat. Namun ternyata, rakyat Filipina berpendapat sebaliknya.

Salah satu komentar datang dari seorang pembuat film sekaligus jurnalis terkemuka di Negeri Lumbung Padi, Joanna Fuertes-Knight. Perempuan berdarah campuran Filipina-Inggris tersebut berpendapat, pendekatan yang dilakukan Duterte untuk memerangi narkoba mungkin mengejutkan komunitas internasional. Akan tetapi, bagi sebagian besar rakyat Filipina, kehadirannya merupakan angin segar.

“Banyak rakyat Filipina beranggapan, presiden yang bekerja lebih baik daripada tidak bekerja sama sekali,” ungkap dokumenter BBC dan VICE yang berfokus menulis artikel kesehatan perempuan dan politik Asia Tenggara tersebut, seperti disitat dari The Guardian, Sabtu (8/10/2016).

Warga Cebu bernama Bong (31) juga berpendapat demikian. “Saya pikir dia sudah bagus dalam menangani isu kejahatan, narkoba dan korupsi. Saya dulunya sering dilanda rasa khawatir dirampok di jalan, tetapi sekarang saya merasa lebih aman,” ucapnya.

Lain lagi kata Ferdinand A Almoradie, penduduk Kota Cagayan de Oro. Kawasan tempat tinggalnya ini terkenal dengan perdagangan jual beli narkobanya.

“Anda bisa bertransaksi narkoba di pinggir jalan sini semudah membeli nasi. (Tetapi, Presiden) Duterte telah membuat banyak perubahan. Dia pemimpin yang melayani dan melindungi integritas seluruh rakyat Filipina dengan baik. Saya berharap, suatu hari, Filipina akan menjadi negara yang bebas dari narkoba sehingga anak dan cucu kami bisa merasa aman,” papar dia.

Seorang warga lain, Carla dari Tacloban juga berharap banyak pada The Punisher –julukan Duterte. Terlepas dari kepribadiannya yang kasar dan buruk, perempuan yang tinggal di kota yang pernah diporak-porandakan Topan Haiyan itu menilai, Filipina yang sekarang lebih memiliki masa depan dibandingkan sebelumnya.

“Saya punya teman dan kenalan pecandu narkoba selama bertahun-tahun. Keluarga mereka hancur gara-gara kecanduan itu. Tetapi sekarang, mereka sudah berkumpul kembali dengan keluarganya dan mencoba memperbaiki kesalahannya,” tuturnya.

Carla menambahkan, “Benar, dia memang vulgar dan ucapannya kasar. Dia bicara tanpa disaring dulu. Tetapi setidaknya dia tulus, jujur dan pekerja keras. Dia mencintai rakyat miskin dan lemah. Bahkan, dia punya selera humor yang bagus. Terlepas dari retorikanya yang sarkas dan kelakuan yang urakan, dia juga cerdas, pintar dan memiliki perencanaan yang strategis.”

Foto: Dukungan rakyat Filipina untuk Presiden Duterte. (The Guardian)

Di samping pujian-pujian di atas, ada juga warga Filipina yang tidak suka dengan caranya. Chili Sal (44) yang bekerja sebagai bankir misalnya, memandang mantan Wali Kota Davao itu tidak cocok menjadi presiden.

Menurutnya, cara Duterte memberantas terorisme justru mengerikan. Dia tidak bisa mengerti jalan pikiran orang nomor satu di Filipina tersebut. Khususnya setiap kali dikritik soal kebijakannya, Sal melihat sang presiden bersikap sangat tidak negarawan dalam menghadapinya.

“Dia sangat buruk dalam hal berdiplomasi dan menjalin hubungan dengan luar negeri. Bahkan, saya semakin tidak bisa membayangkan kerusakan sebesar apa yang sudah terjadi dengan AS dan Uni Eropa dalam waktu singkat, setelah dia naik jadi presiden. Dia benar-benar memalukan,” pungkas Sal.

Foto: Protes rakyat Filipina terhadap Presiden Duterte. (EPA)

Dari 1.200 responden yang ditanyai The Guardian, sekira 76 persen di antaranya menyatakan puas dengan hasil kerja Presiden Rodrigo Roa Duterte. Namun itu kan menurut masyarakat dalam negeri Filipina, bagaimana dengan komunitas dunia?

Jawaban dari pertanyaan itu datang dari seorang romo di Filipina, Joey Evangelista. "Dunia tidak peduli pada Filipina sebelum ini. Mengapa sekarang tiba-tiba jadi sangat peduli pada kami?"

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini