Salah satu tokoh yang juga berperan dalam berdirinya Universitas Udayana itu, awalnya lebih dulu mengenyam pendidikan di India. Tepatnya di Universitas Visva-Bharati, Shantiniketan, India.
Sekembalinya ke Indonesia, Ida Bagus Mantra mulai “membidani” pamor pariwisata Bali sembari menjalani tugasnya sebagai Dirjen Kebudayaan di Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (Depdikbud) RI periode 1968-78.
Selain menjalankan pembangunan di tanah kelahirannya, Ida Bagus Mantra juga merenovasi sejumlah pura. Seperti Pura Besakih dan Pura Pulaki. Mengencangkan lagi kegiatan seni-budaya seperti di era kolonial.
Ditambah, Ida Bagus Mantra juga mendirikan Art Center atau Taman Budaya Denpasar, serta sasana budaya di Buleleng dan Gianyar, demi menghidupkan kembali budaya lokal yang saat itu hidup segan mati tak mau.
Ida Bagus Mantra juga belajar dari pariwisata Bali era kolonial. Saat itu, pemerintah kolonial mengenalkan Bali dengan turut memantapkan transportasi laut dari Eropa ke Bali lewat maskapai Royal Package Navigation Company.
Maskapai itu biasa membawa ratusan wisatawan Eropa kemudian, menginjakkan kakinya di Bali, tepatnya di Singaraja, Buleleng, Bali Utara, lewat pelabuhan Buleleng sejak 1888. Kemudian pada 1891, Belanda membuat armada antar pulau dengan memiliki 140 kapal di seluruh Asia Tenggara.