Obat Kedaluwarsa di Majalengka Capai 10 Ton

Dwi Ayu Artantiani , Okezone · Rabu 26 Oktober 2016 08:07 WIB
https: img.okezone.com content 2016 10 26 525 1524607 obat-kedaluwarsa-di-majalengka-capai-10-ton-agxHy9WLY7.jpg Obat-obatan yang telah kedaluwarsa menumpuk di gudang Dinas Kesehatan Kabupaten Majalengka. (Dwi Ayu)

MAJALENGKA – Obat kedaluwarsa di Kabupaten Majalengka, Jawa Barat, mencapai 10 ton. Dinas Kesehatan Kabupaten Majalengka pun mengajukan proses pemusnahan obat-obatan kedaluwarsa tersebut yang sudah menumpuk di gudang.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Majalengka, Gandana Purwana, mengungkapkan berdasarkan data yang ada kebanyakan obat-obatan yang sudah mengalami masa kedaluwarsa sejak 2012 di antaranya obat TB paru 1, 2, dan anak, regen yang biasa dipergunakan untuk pemeriksaan darah, oralit, obat herpes, serta dekstrometorfan.

Gandana menyatakan, obat-obatan itu pada 2012 ditarik seluruhnya dari peredaran, baik yang ada di puskesmas, apotek, serta stok yang ada di gudang tidak boleh dikeluarkan. Obat-obatan itu berupa sejumlah obat sirup dan obat-obatan lainnya baik untuk bayi, anak-anak, maupun dewasa.

“Ketika itu dekstrometorfan banyak disalahgunaan oleh para pemuda dan bahkan ibu rumah tangga, peredarannya dianggap sudah sangat mengkhawatirkan. Hingga akhirnya sejak itu disepakati dekstrometorfan tidak beredar di Majalengka. Obat seluruhnya ditarik dari peredaran termasuk hasil pengadaan di tahun tersebut dan akhirnya obat itu menumpuk di gudang,” terangnya, Rabu (26/10/2016).

Ia menjelaskan, obat yang sudah tidak dipergunakan tersebut juga termasuk obat yang kemasannya rusak. Obat-obatan semacam itu kini dibungkus dengan menggunakan karung, sedangkan obat lainnya masih utuh terbungkus dus.

“Setelah kami menerima hasil audit dari Inspektorat, kami akan segera minta persetujuan pemusnahan melalui Dinas Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah karena obat-obatan tersebut sudah menjadi aset daerah. Setelah itu mengajukan permohonan penghapusan kepada Bupati untuk diterbitkan SK penghapusan,” paparnya.

Gandana menambahkan, pemusnahan obat-obatan itu akan dilakukan pihak ketiga, di Bogor atau Bekasi karena di Majalengka tidak ada lembaga yang berwenang untuk melakukan pemusnahan.

"Ada 10 ton obat-obatan yang kedaluwarsa dengan nominal sebesar Rp3 miliar," ujarnya.

(erh)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini