Tim sukses Ahok yang “tertinggal” juga disebut-sebut mengalami pengeroyokan, sampai-sampai mereka membuat laporan ke Polsek Kebon Jeruk. Namun beruntung, hal serupa tak kembali menderanya hari ini, saat berkunjung ke Pejaten Timur, Jakarta Selatan.
Bahkan Ahok menyatakan akan kembali blusukan besok, Jumat 4 November, di mana massa akan menggelar aksi demo besar-besaran menuntut Ahok. Pun begitu, Ahok tak segera memberi tahu ke mana dia akan blusukan besok.
Ahok juga mengaku tak meminta tambahan pengamanan untuk agenda-agenda kampanye berikutnya. “Besok blusukan, deh. Saya enggak tahu, kamu lihat nambah enggak (personil pengamanan)? Yang di mobil saya sih enggak nambah,” ungkapnya usai blusukan di Pejaten Timur.
Lantas, apakah penolakan-penolakan warga itu berarti Ahok takkan dipilih dan akan kalah di Pemilihan Gubernur (Pilgub) DKI 15 Februari mendatang? Pakar hukum tata negara Margarito Kamis menilai demikian.
"Menurut saya peristiwa itu menempatkan Pak Ahok dalam situasi harus mendefenisikan ulang gairahnya untuk jadi Gubernur. Sebagai pertanda awal kekalahan," tutur Margarito kepada Okezone, Rabu 2 November malam lalu.
Hal senada juga diungkapkan pengamat politik Universitas Paramadina Hendri Satrio. Dia berharap penolakan ini jadi pelajaran buat Ahok ke depannya, bahwa sebagian besar warga DKI tak terima pemimpinnya punya perilaku tak sesuai.
Hendri juga melihat, ke depannya akan jadi tantangan tersendiri buat tim sukses (timses) Ahok, untuk mengatur agenda blusukan lainnya. (Baca juga: Ditolak Warga saat Kampanye, Pengamat: Itu Pelajaran Buat Ahok)