JAKARTA – Deputi Bidang Metereologi, Badan Metereologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Yunus Swarinoto mengingatkan hujan lebat disertai kilat atau petir dan angin kencang berdurasi singkat lebih banyak terjadi pada masa transisi. Terlebih lagi, saat ini Indonesia tengah memasuki fase pancaroba.
“Hujan lebat disertai kilat atau petir dan angin kencang berdurasi singkat lebih banyak terjadi pada masa transisi, baik dari musim kemarau ke musim hujan atau sebaliknya,” ujar Yunus melalui keterangan tertulisnya, Minggu (4/12/2016).
Adapun indikasi terjadinya hujan lebat disertai kilat atau petir dan angin kencang berdurasi singkat ialah, sehari sebelumnya udara pada malam hari hingga pagi hari terasa panas dan gerah. Selain itu, udara terasa panas dan gerah diakibatkan adanya radiasi matahari yang cukup kuat ditunjukkan oleh nilai perbedaan suhu udara antara pukul 10.00 dan 07.00 LT.
“Kurang dari 4.5°C, disertai dengan kelembaban yang cukup tinggi ditunjukkan oleh nilai kelembaban udara di lapisan 700 mb (> 60 persen),” imbuhnya.
Selain itu, Yunus menyebut mulai pukul 10.00 pagi terlihat tumbuh awan Cumulus (awan putih berlapis – lapis). Diantara awan tersebut ada satu jenis awan yang mempunyai batas tepinya sangat jelas berwarna abu – abu menjulang tinggi seperti bunga kol.
“Tahap berikutnya awan tersebut akan cepat berubah warna menjadi abu – abu / hitam yang dikenal dengan awan Cb (Cumulonimbus),” jelasnya.
Sementara pepohonan disekitar tempat kita berdiri, lanjut Yunus, ada dahan atau ranting yang mulai bergoyang cepat. Selanjuntya, terasa ada sentuhan udara dingin disekitar tempat kita berdiri.