nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Warga Lereng Merapi Temukan Bebatuan Kuno

Agregasi Sindonews.com, Jurnalis · Kamis 15 Desember 2016 10:34 WIB
https: img.okeinfo.net content 2016 12 15 512 1567124 warga-lereng-merapi-temukan-bebatuan-kuno-8YrNWT5SBD.jpg

MAGELANG - Warga Lereng Merapi, tepatnya di Dusun Gendekan, Desa Krinjing, Kecamatan Dukun, Kabupaten Magelang, dikejutkan dengan penemuan struktur bangunan berbahan bebatuan.

Bebatuan itu ditemukan warga saat akan membangun jembatan penghubung antardesa. Kini, bebatuan klasik tersebut masih dalam penelitian Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jawa Tengah.

Informasi diperoleh menyebutkan, warga beberapa waktu lalu saat membuat jembatan yang akan menghubungkan antardesa menggunakan alat berat mengenai bagian batu ini.

"Saat alat berat melakukan penggalian sedalam tujuh meter mengenai gundukan bebatuan," kata Kepala Dusun Gendekan, Wusono.

Salah satu warga setempat, Yanto mengaku, sempat membawa pulang bebatuan tersebut. Namun malamnya, ia merasa ada orang yang mondar-mandir di rumahnya. Saat itu juga, dia kemudian mengembalikan bebatuan yang diambilnya. "Saya takut, saya kembalikan," ujarnya.

Kabar adanya penemuan bebatuan tersebut sempat tersebar. Untuk itu, warga sekitar berdatangan melihatnya, bahkan tersiar kabar pula bahwa itu bebatuan candi. Untuk itu, kabar penemuan ini pun dilaporkan menuju BPCB Jateng. Dan, BPCB Jateng pun melakukan kunjungan di lapangan pada Rabu kemarin.

Pengkaji Pelestari Cagar Budaya, BPCP Jawa Tengah, Wahyu Kristanto mengaku sedang melakukan peninjauan awal, karena adanya laporan dari warga masyarakat. Berdasarkan pengamatan yang dilakukan, batu itu diduga semacam pagar.

"Jadi bukan komponen sebuah bangunan, tapi struktur bangunan, baru struktur karena indikasi kita temukan ke muncak atau bagian atas dari sebuah struktur," kata dia.

Adapun dari temuan tersebut, katanya, nanti masih akan dilakukan pendalaman mengingat minimnya data. Sedangkan yang ditemukan tersebut tidak tinggi jika dilihat hanya sekitar 50 centimeter atau hampir satu meter. "Kalau candi ini bangunan, tapi ini masih bagian dari komponen bangunan. Nanti akan ada tindak lanjut untuk penelitian," ujarnya.

Melihat bebatuan itu, pihaknya memprediksi dari bentuk arsitektur hampir sama dengan candi-candi di Lereng Merapi, sekitar abad 8-9 Masehi. Namun demikian, pihaknya tidak mengetahui apakah Candi Hindu atau Candi Buddha karena belum ada indikasinya. "Kita menunggu kajian, apakah keberadaan di sini karena transformasi atau lainnya," katanya.

Menyinggung soal jumlah bebatuan, Wahyu menuturkan jika masih dilakukan penghitungan, namun tidak sampai 100 buah. Sedangkan ukurannya bermacam-macam, ada yang berukuran 25 cm, maupun 50 cm.

"Kalau dilihat dari bentuknya hampir sama dengan komponen arsitektur bangunan klasik orang dulu. Ketika Mataram Hindu di sini (Lereng Merapi), potensial untuk didirikan bangunan suci karena gunung dianggap tempat berdiam para dewa, daerahnya subur. Jadi selain dijadikan tempat pemujaan juga untuk mendirikan tempat ketenangan," kata dia.

(put)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini