Jika diurai, kata Rahmat, gempa di darat lebih banyak disebabkan aktivitas segmen Sianok. Segmen Sianok berada di sekitar Ngarai Sianok Kota Bukittinggi sampai Tenggara Danau Singkarak melewati sisi Timur danau. “Segmen sumpur yang terletak di daerah Rao, Lubuk Sikaping Kabupaten Pasaman juga cukup aktif dibanding segmen lainya,” katanya.
Ia menjelaskan, sepanjang tahun ini terjadi dua gempa kuat dan satu gempa merusak. Pertama adalah gempa pada 2 Maret 2016 pukul 19.49 WIB yang terjadi di Samudera Hindia dengan kekuatan 8,3 SR. Akibat gempa tersebut, BMKG mengeluarkan status waspada untuk seluruh pantai Sumatera dan level Siaga untuk Kabupaten Kepulauan Mentawai.
"Kejadian gempa yang disertai peringatan dini tsunami ini telah menyebabkan kepanikan masyarakat dan crowded yang luar biasa khususnya di Kota Padang. Hal ini terjadi karena ketidakpahaman masyarakat maupun pemangku kebencanaan terkait produk peringatan dini yang dikeluarkan oleh BMKG," terangnya.
Peringatan dini tsunami pada tingkat level waspada adalah estimasi ancaman tinggi tsunami kurang dari 0,5 meter dan kecil kemungkinan tsunami akan masuk ke daratan, pesan yang disampaikan oleh BMKG pada level waspada ini adalah pemerintah provinsi, kabupaten dan kota.
“Sedangkan untuk wilayah kepulauan Mentawai, BMKG mengeluarkan warning siaga, peringatan dini tsunami pada tingkat level siaga adalah estimasi ancaman tinggi tsunami 0,5-3 meter,” kata Rahmat.
Gempa kedua yang merusak terjadi pada 2 Juni 2016 pukul 05.56 WIB dengan magnitudo 6,5 SR. Lokasi gempa berada di 2,29 Lintang Selatan - 100,46 Bujur Timur tepatnya 79 kilometer Barat Daya Pesisir Selatan, di kedalaman 72 kilometer.