YOGYAKARTA - Wacana pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) berbahan thorium untuk energi alternatif di Indonesia ramai diperbincangkan. Namun, belum ada satu negara pun yang mengunakan thorium sebagai komponen bahan bakar pembangkit listrik.
Kepala Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan) Djarot Sulistio Wisnubroto mengatakan, selama ini yang dikenal di seluruh dunia PLTN selalu berbasis uranium. Terdapat 431 PLTN yang menggunakan komponen uranium sebagai bahan bakar.
"Yang benar-benar menggunakan thorium belum ada," katanya kepada wartawan di sela-sela diskusi tentang thorium di Kantor Batan Yogyakarta, Rabu (4/1/2017).
Saat ditanya prospek ke depan soal pemanfaatan thorium menjadi bahan bakar PLTN, Djarot mengatakan, perlu adanya mengiradiasi dulu di tahap awal. Melalui reaktor Kartini di Batan Yogyakarta, sekarang thorium sudah bisa diubah menjadi uranium 233.
"Uranium ini kemungkinan bisa jadi bahan bakar tenaga listrik. Batan bisa mengubah thorium menjadi uranium, lalu yang menjadi pertanyaan apakah besok sudah bisa bangun PLTT? Tidak, perlu proses panjang," jelasnya.
Djarot belum bisa menyimpulkan kapan Indonesia akan menggunakan thorium sebagai bahan bakar pembangkit listrik. Dia membeberkan, India dan China yang memiliki thorium lebih banyak dari Indonesia juga belum membangun pembangkit listrik tenaga nuklir berbasis thorium (PLTT).
"Kita belum bisa bicara kapan (thorium) dipergunakan PLTN, India saja punya lebih banyak 800 ribu ton thorium, belum menggunakan, teknologi mereka beberapa tahap di atas kita," katanya.
"Mereka (India maupun Cina) ingin uji coba dulu, bikin bahan bakarnya dulu, punya thorium tapi bikin bahan bakarnya dulu, trus dimasukan ke reaktor karena mereka juga sudah punya PLTN. Jadi dicampur dengan uranium, terus limbahnya seperti apa," imbuhnya.
Pada dasarnya, thoriun berbeda dengan uranium. Thorium merupakan bahan bakar nuklir yang tidak bisa langsung bereaksi nuklir seperti halnya uranium. Thorium hanya bisa berekasi nuklir jika dipicu dengan bahan bakar nuklir lain, seperti uranium dan plutanium.
Uranium dan plutanium itu merupakan bahan fisil (dapat membelah) yang apabila bereaksi dengan neutron akan mengalami reaksi membelah dan menghasilkan unsur produk fisi, neutron, dan panas. Panas yang dihasilkan ini digunakan untuk membangkitkan listrik.
Penggunaan thorium sebagai bahan bakar tidak dapat berdiri sendiri, tapi harus dikombinasikan dengan bahan fisil (membelah). Thorium potensial digunakan sebagai bahan bakar nuklir alternatif karena memiliki beberapa keunggulan, seperti risiko rendah digunakan untuk persenjatan nuklir.
"Kalau klaim banyak pihak, thorium itu limbahnya lebih sedikit, kemudian untuk dipakai senjata nuklir potensinya lebih rendah. Tapi teknologinya belum dewasa, jadi kita belum bisa bicara lebih jauh apakah yang diklaim itu benar atau tidak," katanya.
Posisi Batan, kata dia, harus menyampaikan apa adanya ke masyarakat. Saat ini, tahap yang baru bisa dilakukan Batan adalah memisahkan Tanah Jarang menjadi beberapa unsur, termasuk memecah thorium menjadi uranium.
"China yang teknologi diatas kita, baru berencana membangun tahun 2035. Saya prediksi kita juga bisa membangun 5-10 tahun setelah tahun itu. Saat ini kita belum bisa menjawab (kapan dibangun PLTT)," tandasnya.
Kepala Pusat Sains dan Teknologi Akselelator (PSTA) Batan Yogyakarta, Susilo Widodo menyampaikan saat ini tengah dalam masa transisi dari penelitian labolatorium ke produksi. Artinya, penelitian yang saat ini mengarah pada kebutuhan industri.
"Jika dulu hasil penelitian hanya sampel-sampel yang kecil, saat ini akan ke tahap lebih besar karena beralih dari lab ke produksi. Dulu yang hanya maksimal enam dalam sekali ujicoba, sekarang bisa lebih daro 100 jam," katanya.
Susilo berharap, hasil penelitian yang sudah memecah thorium menjadi uranoim ini bisa dikembangkan lagi. Terlebih, bagi pihak lain yang bisa memanfaatkan hasil penelitian untuk perkembangan selanjutnya.
(Salman Mardira)