Pakar lain berpendapat, kurangnya ekspresi dalam foto zaman dulu dipengaruhi oleh lukisan yang ada. Meskipun orang-orang kudus digambarkan dengan senyum samar, senyum lebar seringnya diartikan sebagai kegilaan, kemesuman, kebisingan dan kemabukan.
“Pada abad ke-19 foto diambil dalam nuansa formal dan gaya yang paling cocok adalah seperti itu. Apalagi foto pada masa itu dianggap sebagai satu-satunya citra seseorang,” kata Trumble.
Pada studi lebih lanjut, ditemukan sejumlah foto era pertengahan yang menampilkan seorang pria tersenyum di samping temannya yang sedang fokus memegang kartu. Ada juga pria Afrika-Amerika dengan tangan terangkat tersenyum lebar karena baru saja memenangkan pertandingan tinju.
Semua senyum itu terlihat pada foto-foto peristiwa, dan pada masa itu pengambilan gambar sudah lebih cepat sekira 5 menit untuk sekali jepret. Namun untuk kelas masyarakat yang lebih tinggi, mereka tidak akan berpose seperti itu.
(Silviana Dharma)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.