Menurutnya, teknologi fotografi pada abad ke-19 sifat operasionalnya masih sangat lamban, yakni bisa memakan waktu 30 menit untuk sekali foto. Ada kemungkinan, mereka sebenarnya sudah menyiapkan senyum terbaik mereka di awal. Akan tetapi, karena pengambilan gambarnya terlalu lama, sunggingan di bibir itu meluntur dengan sendirinya.
“Jika Anda melihat proses pengambilan gambar zaman itu, yang butuh waktu panjang, Anda pasti akan memilih pose yang paling nyaman,” paparnya.
Kemungkinan lain karena orang-orang pada zaman dulu tidak memiliki keharusan untuk berfoto dengan wajah tersenyum. Jadi keharusan untuk tersenyum saat difoto mungkin hanya konsep yang terbentuk pada orang-orang zaman sekarang.
“Gagasan untuk tersenyum saat difoto datang dari dunia kita, seolah-olah alamiahnya harus seperti itu. Tapi kalau senyum secara umum disebut pembawaan, tersenyum di depan kamera bisa jadi memang bukan sebuah respons naluriah manusia,” urai profesor ilmu budaya dan komunikasi, Christina Kotchemidova.