Dikonfirmasi terpisah, Koordinator Museum Sejarah Purbakala Peret, Susanto, menjelaskan bahwa batu yang ditemukan berjenis andesit dan pada salah satu batu yang ditemukan memiliki takik atau lekukan pada sudutnya. Dua buah batu andesit warna hitam tersebut diperkirakan masih berada pada posisi bangunan semula. “Batu ini seperti masih menempel pada bangunan awal, seperti bekas reruntuhan bangunan," bebernya.
Dijelaskannya, jika melihat susunan batu bata kuno berukuran besar yang mirip dengan yang ditemukan di Masjid Kauman Pleret dan andesit tersebut sama jenisnya dengan batu andesit candi di wilayah Piyungan. Namun untuk memastikan hal itui perlu penelitian lebih lanjut.
Wilayah Pleret terdapat situs bekas Keraton Pleret peninggalan kerajaan Islam. Keraton ini diperkirakan ada pada 1646 hingga 1677. Hal itu lantaran Sunan Amangkurat Agung memilih pindah dari pada menetap di keraton yang dibangun oleh ayahnya yakni Sultan Agung. Literatur peta Keraton Pleret yang masih bisa dilihat adalah peta yang dibuat oleh orang Belanda, Rouffar pada 1889. Dalam peta tersebut, terdapat sketsa gambar keraton, bekas benteng yang mengelilinginya, sketsa lokasi Srimanganti, Balekambang, dan beberapa bangunan lainnya.
Keraton Pleret hancur setelah Pasukan Trunajaya menyerbu dan membakarnya pada 1676. Hingga kunjungan Rouffar pada 1889, yang tersisa hanyalah sebagian dari tembok keliling keraton dan deretan umpak atau alas tiang kayu. Bekas-bekas tembok hilang di abad 20-an karena dibangun pabrik gula di atasnya.
(Rachmat Fahzry)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.