Share

Ini 6 Gebrakan yang Dijanjikan Trump dalam 100 Hari Kepemimpinan

Silviana Dharma, Okezone · Rabu 18 Januari 2017 07:01 WIB
https: img.okezone.com content 2017 01 17 18 1594096 ini-6-gebrakan-yang-dijanjikan-trump-dalam-100-hari-kepemimpinan-CQB8a5SNAu.jpg Presiden Terpilih AS Donald Trump akan dilantik pada 20 Januari 2017. (Foto: Reuters)

PELANTIKAN Donald Trump sebagai Presiden Amerika Serikat tinggal empat hari lagi. Tidak hanya rakyat di Negeri Paman Sam, tetapi di seluruh dunia menantikan akan seperti apa negara adidaya itu di bawah pemerintahan yang baru.

Sebagai gambaran, berikut ini Okezone mengulas enam garis besar gebrakan yang hendak direalisasikan Trump dan pasangannya Mike Pence dalam kurun waktu 100 hari kerja. Kebijakan di bawah ini mulai berlaku terhitung sejak pengucapan sumpah jabatannya di tangga Gedung Kongres AS pada 20 Januari 2017 siang waktu setempat.

Pada intinya ada tiga hal yang menjadi fokus kerja kabinet Trump, yakni memberlakukan batas menjabat di Kongres, melindungi kaum pekerja di AS dan memulihkan penegakan hukum. Semua itu dilakukan demi satu tujuan yang berulang kali dikampanyekannya, "Membuat Amerika Hebat Lagi".

Sewaktu berkampanye, masyarakat diperdengarkan dengan janji-janji yang keras. Namun belakangan Trump sudah melunak. Semakin dekat dengan hari pelantikan Donald Trump, semakin jarang bahkan sudah tak pernah lagi dia menyerukan pembangunan tembok, pencabutan Obamacare apalagi mendeportasi imigran.

Namun begitu, dia masih konsisten terhadap beberapa hal, seperti.

1. Membatalkan kerjasama lintas pasifik (TPP)

Suami Melania Knavs ini ingin membatalkan keikutsertaan AS dalam negosiasi Trans Pacific Partnership (TPP). Menurutnya, dia punya ide yang lebih baik dan bermaksud menggantinya dengan perjanjian dagang bilateral yang lebih adil.

Keputusan Trump ini banyak ditentang karena dianggap mencederai niat Presiden Barack Obama untuk memperkuat cengkraman AS di Asia. Akan tetapi, seperti diulas CNN, Rabu (18/1/2017), juragan real estate itu lebih percaya pada insting bisnisnya.

Sebagaimana banyak pakar berkeyakinan bahwa TPP justru akan mematikan lapangan kerja dan memperburuk ketimpangan pendapatan di seluruh negara yang terlibat, 11 dari Asia dan satu adalah AS sendiri. Perlu diketahui, ke-12 negara ini jika disatukan memiliki andil pada 40% perdagangan dunia.

Momok itu telah diperingatkan oleh Trump dalam kampanyenya di Ohio pada Juni 2016. Ia menyebut TPP sebagai bencana lain yang dikerjakan dan didorong oleh kepentingan tertentu. Tujuannya tak lain memperkosa ketangguhan negerinya.

2. Mengurangi pembatasan energi

Trump berpendapat, jika negara terlalu banyak mengekang pemakaian energi dari batu bara, maka lapangan pekerjaan menjadi sempit. Sesuai komitmennya untuk mengembalikan lapangan pekerjaan ke AS, dia menargetkan pengurangan terhadap pembatasan energi. Dengan begitu, lapangan pekerjaan bisa tercipta bahkan memberi pendapatan yang tinggi kepada pekerjanya.

3. Mengubah beberapa kebijakan bisnis

Ada logika baru yang dirumuskan Trump selama kampanye. "Untuk setiap satu aturan baru, dua aturan lama harus dicabut," tukasnya.

4. Menjaga AS dari serangan siber

Maraknya isu peretasan oleh Rusia selama pilpres AS menimbulkan keprihatinan di benak Trump dan Pence. Mereka pun memutar otak untuk mencegah hal yang tidak diinginkan terjadi di masa pemerintahannya.

Trump-Pence pun berjanji akan membentuk tim penangkal serangan siber yang anggotanya terdiri dari militer, penegak hukum dan sektor swasta. Setelah pelantikan Donald Trump, mereka juga menegaskan akan mengaudit sistem keamanan komputer di setiap negara bagian dan memperkuat divisi retas-meretas dalam kemiliteran AS.

Lebih dari itu Trump berharap AS kelak bisa mengembangkan kemampuan menyerangnya di dunia maya. Dalam arti, sistem komputerisasi Washington mampu mencegah serangan yang dibekingi negara maupun aktor non-negara. Bahkan jika memungkinkan, sistem yang baru itu akan bisa memberi serangan balik yang tepat sasaran.

Terakhir, dalam konferensi pers pertamanya sejak terpilih menjadi jawara pilpres AS ia menambah janji baru. "Dalam waktu 90 hari (setelah dilantik), kami akan memberikan Anda laporan menyeluruh tentang pertahanan kita dari peretasan," cetusnya di Trump Tower, Manhattan, New York pada Rabu 11 Januari pukul 23.00 WIB.

5. Meninjau program visa

Imigran saat ini tengah menjadi masalah global. Tidak hanya terjadi di Eropa, tetapi di negara seperti AS yang selama ini dibangun oleh para pendatang.

Pada pekan terakhir kampanyenya, Trump menegaskan akan menaruh perhatian khusus pada isu imigran pada tujuh hari pertama kedudukannya di Gedung Putih. Kepada seluruh pendukungnya, dia mengatakan tujuannya ialah mengakhiri kedatangan orang secara ilegal dan mencegah teroris masuk ke negaranya dengan menyusup di antara para imigran.

Pria berdarah Jerman-Skotlandia itu juga menjamin kebijakannya mampu memulangkan semua imigran pelanggar hukum ke negara asalnya. Ia tidak akan sembarangan menendang orang ke luar AS, tetapi dengan cara menyelidiki semua catatan pelanggaran dalam program visa yang faktanya telah memperlemah peluang kerja rakyat asli AS selama ini.

Trump juga menyatakan akan menaikkan hukuman minimal untuk pendatang ilegal menjadi dua tahun penjara. Dia juga mengusulkan sanksi kurungan paling ringan lima tahun bagi imigran residivis.

6. Melarang lobi asing

Lobi asing jadi kritik paling keras Trump selama Pilpres AS 2016 kepada penantangnya, Hillary Clinton dari Partai Demokrat. Walaupun tuduhan serupa juga sering mengarah padanya, terutama soal dukungan dari Rusia. Akan tetapi, semua tidak pernah terbukti. Sekarang, dia justru membuktikan bahwa dia cukup anti dengan lobi asing.

Kebijakan baru itu akan melarang para pejabat yang bertugas melobi wajib menanggalkan jabatannya di pemerintahan setelah lima tahun. Juru bicara Komite Nasional Partai Republik, Sean Spicer menjelaskan, "Langkah ini penting bagi Trump guna memastikan tidak seorang pun pejabat memanfaatkan posisinya di pemerintahan untuk memperkaya diri."

"Masalahnya ada pada sistem. Oleh karena itu, kita harus bekerja untuk membersihkan sistemnya. Tetapi semua orang yang bekerja di pemerintahan pada akhirnya akan menjadi pelobi ulung. Maksud saya, seluruhnya jika disatukan akan jadi satu perusahaan lobi besar," demikian Trump pernah memperingatkan dalam wawancaranya dengan program '60 minutes' di AS.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini