KATA orang-orang dahulu, firasat orangtua terhadap anaknya itu sangat kuat. Ternyata, itu memang benar lho. Setidaknya bagi Bapak dan Ibu Wongsoredjo, orangtua Jenderal (Anm) Ahmad Yani.
Pada suatu subuh “jahanam” 1 Oktober 1965, Menteri/Panglima Angkatan Darat (Menpangad) Letjen Ahmad Yani direnggut nyawanya secara paksa oleh gerombolan oknum Pasukan Tjakrabirawa.
Jenderal Yani jadi salah satu pejabat teras TNI AD kala itu yang jadi korban keganasan Gerakan 30 September (G30S) PKI. Pedih dan duka mendalam dialami istri dan anak-anaknya yang kehilangan sosok sang jenderal, tepat di hadapan mereka yang juga di rumah mereka sendiri di Jalan Lembang D58, Jakarta Pusat.
“Dulu bahkan ibu sempat sakit-sakitan setelah Bapak (Jenderal Yani) enggak ada. Bolak-balik masuk rumah sakit juga. Itu saat-saat terpuruk bagi kami,” tutur Amelia A Yani, salah satu putri mendiang Jenderal Yani, kepada Okezone, beberapa waktu lalu.
“Beberapa minggu setelah kejadian, Mbah Wongso (Bapak dan Ibu Wongsoredjo), orangtuanya Bapak, datang ke Jakarta, nengok ke rumah. Mereka sempat nginep di kamar Bapak,” imbuhnya di rumah yang kini sudah menjadi Museum Sasmitaloka Pahlawan Revolusi Jenderal TNI Ahmad Yani tersebut.
Dari situ anak-anak mendiang Jenderal Yani diceritakan kakek-neneknya bahwa sebenarnya pada waktu kejadian, mereka juga mendapat firasat yang ganjil. Firasat sosok putra mereka, Jenderal Ahmad Yani, datang ke kampung halaman di Rendeng, Purworejo, Jawa Tengah.
Sosok putra mereka menghampiri tempat tidur ibunda untuk berpamitan. Hal ganjil sekelebat itu tak bertahan lama karena setelah tersadar, Ibu Wongsoredjo melihat bayangan putranya langsung raib.