DUA ratus tahun lalu, tanah Amerika masih lekat dengan budaya perbudakan. Korbannya, kaum kulit hitam. Ibarat komoditas, mereka diperjualbelikan. Sering kali para budak ini juga tidak diperlakukan layak dan disiksa secara fisik maupun psikologis.
Meski demikian, ada satu budak yang menolak diperlakukan semena-mena. Bahkan, ia menjalani hidup sebagai pembela hak-hak para budak. Ia adalah Harriet Tubman.
Harriet Tubman terlahir sebagai Araminta Ross pada 1822 di Dorchester County, Maryland. Sejak kecil, ia sudah tinggal dan bekerja di perkebunan tempat kedua orangtuanya mencari nafkah.
Ketika remaja, Araminta memblokade jalan masuk untuk menghalangi masuknya pemilik budak yang sedang marah. Si majikan kemudian melempar besi dan mengenai kepala Araminta. Tak hanya menyakitinya, tindakan si majikan membuat Araminta menderita hipersomnia hingga akhir hayatnya. Kondisi medis ini membuat seseorang terus merasa mengantuk sepanjang hari.
Araminta mengganti namanya menjadi Harriet Tubman setelah ia menikah dengan John Tubman.
Menyitat Vintage News, Jumat (27/1/2017), pada 1849, Harriet berhasil kabur ke Philadelphia. Namun, Harriet yang kala itu berusia 27 tahun bolak-balik hingga 13 kali ke kampung halamannya, Dorchester County. Misinya, membebaskan keluarga, teman dan para budak Afrika Amerika lainnya.
Setiap kali menjalankan misi, ia membawa rombongan besar para budak menuju kebebasan. Mereka bepergian di malam hari dan penuh kerahasiaan. Total, Harriet membebaskan lebih dari 300 budak. Hebatnya lagi, dalam setiap misi ia tak pernah kehilangan satu orang pun.
Sepuluh tahun kemudian, yaitu pada 1859, ia membeli peternakan di Auburn, New York. Di sinilah Harriet membangun rumah untuk keluarga dan para budak lainnya.
Selama masa Perang Saudara, Harriet mendukung tentara kesatuan sebagai anggota kepanduan, mata-mata dan perawat bagi pasukan Afrika-Amerika. Ketika perang berakhir, ia mendirikan Panti Jompo Harriet Tubman.
Harriet Tibman di usia senja. (foto: Wikipedia/Vintage News)
Anggota kelompoknya menjuluki Harriet sebagai "Musa". Ia aktif memperjuangkan hak pilih perempuan. Namun, apa daya penyakit akibat usia mengambil alih tubuhnya. Harriet pun dirawat di panti jompo yang ia dirikan.
Harriet tutup usia pada 10 Maret 1913 di Auburn, New York. Ia dikenang sebagai ikon Amerika dan menjadi inspirasi tentang keberanian dan kebebasan.
(Rifa Nadia Nurfuadah)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.