nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

KISAH: Desmond Doss, Pahlawan Perang AS yang Tak Pernah Muntahkan Peluru

Wikanto Arungbudoyo, Jurnalis · Selasa 07 Februari 2017 07:01 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2017 02 07 18 1611205 kisah-desmond-doss-pahlawan-perang-as-yang-tak-pernah-muntahkan-peluru-kQn5szsDzi.jpg Desmond Doss Bersama Istrinya, Dorothy. (Foto: Daily Mail)

DICAP sebagai seorang pengkhianat karena tidak mau mengangkat senjata. Dipermalukan oleh rekan satu divisi karena iman yang dianutnya dengan teguh. Hampir dikeluarkan karena seorang tentara menganggapnya memiliki penyakit kejiwaan. Namun, pada akhirnya si pesakitan ini berhasil menjadi pahlawan bagi Amerika Serikat (AS) tanpa memuntahkan satu butir peluru.

Sebagai seorang warga negara di tengah kondisi perang, Desmond Doss terpanggil untuk mengabdi kepada negara untuk menjadi tentara pada April 1942. Namun, pria asal Negara Bagian Virginia itu menolak untuk mengangkat senjata atau membunuh lawannya karena bertentangan dengan imannya sebagai seorang penganut Kristen aliran Adven Masehi Hari Ketujuh.

Desmond menolak karena mematuhi hukum keenam dalam 10 Hukum Taurat yakni, ‘Jangan Membunuh’ serta hukum keempat yakni, ‘Ingatlah dan Kuduskanlah Hari Sabat’. Akibat keteguhannya itu, Doss dicap sebagai pengkhianat dan terancam menghadapi pengadilan militer. Namun, ia kemudian diizinkan oleh komandannya untuk mengabdi sebagai seorang tenaga medis.

“Saya merasa terhormat untuk mengabdi kepada Tuhan dan negara. Saya tidak mau dikenal sebagai orang yang melarikan diri dari tugas wajib militer. Tentu saja, saya tidak tahu apa yang terjadi,” ujar Desmond Doss dalam sebuah wawancara pada 1998, mengutip dari Daily Mail.

Tugas pertama Desmond Doss sebagai medis dimulai saat bergabung dengan Divisi Infanteri 77 pada 1944 di Guam dan Leyte, Filipina. Pengabdian tersebut membuahkan Bintang Perunggu atas jasanya di medan perang. Ia kemudian ambil bagian dalam Battle of Okinawa di Jepang pada musim panas 1945. Di sinilah kelak, aksinya akan dianggap sebagai seorang pahlawan bagi Amerika Serikat.

Desmond Doss harus mengawal pasukan sebagai medis tepat di Hari Sabat, 5 Mei 1945. Sabat bagi penganut Adven Masehi Hari Ketujuh adalah hari di mana mereka wajib untuk beribadah kepada Tuhan dan tidak diperkenankan untuk bekerja. Namun, Desmond Doss merasa dirinya tidak melanggar Hukum Taurat karena Tuhan menyembuhkan orang sakit, sama seperti tugasnya.

Para pasukan tersebut harus berhasil menaklukkan Jepang di atas sebuah punggung bukit yang diberi nama Hacksaw Ridge atau Maeda Escarpment. Medan perang tersebut sangat mematikan karena kabut selalu menghalangi pandangan. Tentara Jepang juga mahir bersembunyi sehinga sulit terdeteksi. Ibaratnya, tentara AS sedang mengantar nyawa mereka bagi tentara Jepang.

Dari salah seorang prajurit di barak, Doss mengetahui bahwa tentara Jepang sengaja mengincar petugas medis. Alasannya, satu orang medis terbunuh, maka satu batalyon tentara akan terguncang mentalnya. Sebab, satu orang medis dapat memulihkan para prajurit yang terluka.

Benar saja. Tentara AS langsung disambut dengan berondongan tembakan. Korban tewas dan luka-luka segera berjatuhan di pihak AS. Ketika pasukan lain memutuskan untuk mundur, Desmond Doss dengan gagah berani tetap berada di atas punggung bukit tersebut. Satu per satu dia mencari, menyembuhkan, dan menyelamatkan para prajurit yang luka-luka.

Dengan tubuhnya yang kurus, Doss sanggup mengangkat para prajurit yang bobot tubuhnya jauh lebih besar. Ia membawa para prajurit yang terluka itu ke pinggir bukit dan menurunkan mereka dengan tali yang diikatkan ke tunggul pohon. Tali tersebut berfungsi layaknya sebuah katrol. Ia melakukan tugasnya itu tanpa lelah sepanjang hari baik tanpa peduli siang dan malam.

Setelah semua prajurit yang terluka berhasil diturunkan, Desmond Doss akhirnya turun dari atas punggung bukit. Yang menarik, ia tidak mengalami luka sedikit pun di badannya. Ia berhasil menghindari tentara Jepang yang mengintai layaknya predator sedang berburu mangsa. Aksinya itu sungguh menambah semangat para prajurit di batalyon tersebut.

Desmond Doss mengaku menyelamatkan 100 orang sepanjang upaya tanpa kenal lelah di atas punggung bukit itu. Setelah terjadi perdebatan, akhirnya disepakati Doss menyelamatkan 75 orang prajurit. Di kemudian hari Doss mengoreksi angka tersebut menjadi 50 orang prajurit. Berapa pun angkanya, aksinya itu tetap mengagumkan.

Dua pekan kemudian, tepatnya 21 Mei 1945, Doss dan rekan-rekannya kembali berupaya merebut Hacksaw Ridge. Kali ini, kakinya terluka akibat ledakan granat saat serangan pada malam hari. Ia terluka karena tetap berada di area terbuka untuk membantu tentara lainnya. Ia berupaya menyembuhkan lukanya sendiri tanpa meminta bantuan dari medis lainnya untuk mendapatkan perawatan. Ia bahkan harus menunggu selama lima jam sebelum diselamatkan rekan-rekannya.

Namun, ia dan kedua orang rekannya terjebak dalam serangan kendaraan lapis baja dari tentara Jepang. Ketika Doss melihat ada prajurit yang terluka parah, ia merangkak dari keranda dan mengarahkan pembawa keranda itu untuk mengalihkan perhatian ke prajurit yang terluka parah. Saat menunggu rekannya kembali, ia terjebak dalam serangan.

Doss mengalami patah tangan akibat serangan tersebut. Tidak kehabisan akal, Doss kemudian mencari jalan untuk menyelamatkan dirinya sendiri. Ia berhasil merangkak sejauh kurang lebih 300 meter (m) menuju tempat pemulihan.

Jasanya di Perang Okinawa tersebut membuahkan Medali Kehormatan dari Presiden Harry Truman pada 12 Oktober 1945. “Lewat keberanian luar biasa dan tekad gigih dalam menghadapi kondisi yang sangat berbahaya, Prajurit Desmond Doss menyelamatkan nyawa banyak tentara. Namanya menjadi simbol bagi Divisi Infanteri 77 atas kegagahan luar biasa di atas segalanya dan melampaui panggilan tugas,” demikian bunyi kutipan dari pernyataan penyerahan Medali Kehormatan tersebut.

1
4

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini