Image

Sosok Kim Jong-nam di Mata Jurnalis Tokyo

Rufki Ade Vinanda, Jurnalis · Jum'at, 17 Februari 2017 - 16:59 WIB
Saudara Tiri Penguasa Korut, Kim Jong-nam. (Foto: Telegraph) Saudara Tiri Penguasa Korut, Kim Jong-nam. (Foto: Telegraph)

TOKYO - Kim Jong-nam pantas mendapatkan julukan putra mahkota yang terbuang. Ia dikenal hidup jauh dari sorotan media. Namun, hal tersebut tak lantas membuatnya sama sekali tak pernah berbicara pada media.

Beberapa tahun lalu, Kim Jong-nam diketahui pernah melakukan wawancara dengan wartawan asal Jepang, Yoji Gomi.

Sebagaimana dilansir dari Telegraph, Jumat (17/2/2017), dalam wawancara tersebut Jong-nam menyampaikan pandangannya dan mengkritik rezim pemerintahan adik tirinya. Komentar Jong-nam tersebut kemudian diterbitkan di surat kabar Tokyo Shimbun dan dimuat dalam sebuah buku yang diterbitkan pada 2012. Buku tersebut disusun berdasarkan dari hasil wawancara yang berlangsung selama lebih dari tujuh jam dan 150 e-mail balasan dari Jong-nam kepada Gomi.

Mendengar berita kematian tragis Kim Jong-nam, Yoji Gomi yang pernah mewawancarinya mengaku turut bersedih atas kematian kakak tiri Kim Jong-un tersebut. Ia kemudian melontarkan pujian terkait keberanian Jong -nam dalam mengkritik rezim Korut meskipun terdapat potensi bahaya yang sewaktu-waktu dapat mengincarnya.

Gomi menjelaskan, Jong-nam adalah sosok yang cerdas dan sopan terlepas dari citra playboynya.

"Saya menerima sebuah e-mail darinya. Dan e-mail tersebut menyebutkan bahwa terdapat sebuah peringatan keras dari Pyongyang yang ditujukkan untuknya (Jong-nam) setelah wawancara. Akibatnya ia memutuskan untuk menahan diri untuk berbicara tentang politik. Tapi di dalam pesannya, ia juga menyebut jika dirinya senang untuk melanjutkan interaksi dengan saya. Begitupun dengan saya sendiri," ujar Gomi dalam konferensi pers yang digelar di Club Foreign Correspondents, Tokyo, Jepang.

 Yoji Gomi speaks during a press conference entitled 'Kim Jong Nam and his death' in Tokyo on Friday

Wartawan asal Jepang, Yoji Gomi Menggelar Konferensi Pers Terkait Kematian Kim Jong-nam. (Foto:Getty Images)

Gomi mengaku menjalin komunikasi terakhir dengan Kim Jong-nam pada Januari 2012.

"Ia orang yang sangat kritis terhadap sistem yang ada di Korut. Pertama-tama ia mengatakan bahwa kekuasaan tidak boleh bergantung pada suksesi turun-temurun. Hal itu dianggapnya tidak sesuai dengan masyarakat sosialis dan sudah seharusnya seorang pemimpin dipilih melalui proses demokrasi. Ia percaya bahwa satu-satunya cara agar Korut bisa bertahan adalah dengan melakukan reformasi seperti yang telah dilakukan oleh China," tambahnya.

Kala itu, kata Gomi, Jong-nam berkeringat di seluruh tubuh namun terlihat berbicara dengan nyaman dalam menyampaikan jawabannya. Gomi pertama kali bertemu dengan Kim Jong-nam di Bandara Beijing pada 2014 sebelum akhirnya saling bertukar pesan melalui e-mail. (rav)

(rfa)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini

Live Streaming