Share

Berita di Balik Penganiayaan Wartawan iNews TV di Medan

Erie Prasetyo, Okezone · Sabtu 01 April 2017 05:56 WIB
https: img.okezone.com content 2017 04 01 340 1656239 berita-di-balik-penganiayaan-wartawan-inews-tv-di-medan-F2rxwkPxmP.jpg Ilustrasi

MEDAN - Sejak beberapa tahun belakangan ini, kawasan Jalan Tol Haji Anif, Kecamatan Percut Sei Tuan hingga Kecamatan Labuhan Deli, Kabupaten Deliserdang banyak terjadi konflik lahan HGU PTN antara sesama penggarap.

Bahkan, tak sedikit para penggarap dan warga yang menjadi korban peperangan perebutan lahan tersebut.

Lebih parahnya, sekira 2 tahun lalu, salah satu kelompok (Badan Perjuangan Rakyat Penunggu Indonesia) sempat bentrok dengan kelompok mafia tanah hingga jatuh korban. Bukan itu saja, pemakaman umum di Jalan Haji Anif, kawasan Kampung Agas, Deli Serdang, tak luput dari perebutan.

Para mafia tanah tak peduli bahwa di lahan tersebut sudah berdiri beberapa patok kuburan warga yang telah lama meninggal. Dengan alat berat (eskavator) para mafia tanah menggusur makam tersebut dan memindahkan tulang belulang makam ke tempat lain.

"Ini ulah mafia tanah. Di sini banyak mafia tanah, mereka dibekingi oknum penegak hukum. Mafia tanah bekerja sama dengan pengembang untuk mengambilnya. Padahal, di tanah yang diserobot itu terdapat beberapa makam warga tapi sudah dibongkar. Bahkan, tulang belulangnya masih ada yang tertinggal saat mereka memindahkannya," kata Ketua BPRPI Kampung Agas, Sahrum Lubis (76) kepada wartawan, Jumat 31 Maret 2017.

Petikaian masalah tanah di kawasan Kecamatan Percut Sei Tuan-Kecamatan Labuhan Deli di Kampung Agas, Jalan Haji Anif, Kabupaten Deli Serdang itu terus bergulir hingga sekarang. Hingga petaka menimpa Adi Palapa Harahap (40) wartawan iNews TV Biro Medan. Dikarenakan memberitakan persoalan konflik perebutan tanah yang terjadi di wilayah tersebut.

Rumah kotrakannya yang terletak di Pasar III Kelurahan Mabar Hilir, Kecamatan Labuhan Deli, Kabupaten Deliserdang, Sumatera Utara, tepatnya di depan Sekolah Inpres Pelita, Jumat 24 Maret 2017 sekira pukul 21.30 WIB didatangi sekelompok mafia tanah termaksud bos gudang semen ilegal yang juga berada di kawasan lahan garapan tersebut.

Malam itu, sekelompok orang berkisar 15 orang mengendarai satu mobil Trail dan sepeda motor ingin menculiknya di hadapan istrinya, Eka Siregar (29) dan anaknya Eki yang masih berusia 6 tahun.

Namun, karena dapat dicegah istrinya, korban sempat berlari untuk bersembunyi ke dalam kamar mandi rumahnya. Sayangnya, lima orang pelaku terlebih dahulu sempat menganiaya korban hingga mendapatkan sejumlah luka pada tubuhnya.

Atas kasus tersebut dan dengan adanya keterlibatan oknum kepolisian yang diduga terlibat membekingi bahkan menganiaya korban, pihak Poldasu langsung respons. Tim Kasubdit III/Jahtanras Polda Sumut menangkap tiga orang pelaku penganiayaan tersebut pada Selasa 28 Maret 2017 sekira pukul 15.00 WIB.

Santer dibicarakan oleh warga kalau kawasan lahan garapan Jalan Haji Anif, Kampung Agas, memang sejak dahulu terjadi konflik bahkan banyaknya gudang ilegal yang dibekingi oknum aparat.

"Kalau disini jangan tanyak lagi bang, namanya juga lahan garapan, pasti sering konflik. Tapi anehnya, di kawasan garapan ini yang sering konflik. Karena tempatnya di lahan garapan, gudang dan usaha ilegal pasti banyak lah bang. Tapi di pastinya dibekingi polisi," beber Sahrul, warga sekitar ketika wartawan mencoba mendatangi lokasi dan mencari tahu di kawasan tersebut, Jumat sore.

Dari kejadian itu pula, pihak Polda Sumut mengaku dalam waktu dekat menangkap pelaku lainnya yang terlibat, termaksud anggota polisi serta melakukan penyelidikan mengenai konflik lahan garapan dan gudang semen ilegal yang anyar terdengar banyak di kawasan itu.

"Mereka menganiaya saya karena pemberitaan soal tanah dan pabrik semen. Sudah saya bilang kalau ada yang keliru silakan diklarifikasi. Tapi mereka malah memukul saya dan mau membawa saya ke dalam mobil," jelas wartawan iNews TV, Adi Palapa.

(Ari)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini