Share

Prajurit TNI Penganiaya Wartawan Dihukum 3 Bulan Bui, Forum Jurnalis: Ini Sangat Tak Adil!

Wahyudi Aulia Siregar, Okezone · Jum'at 08 September 2017 17:00 WIB
https: img.okezone.com content 2017 09 08 340 1772100 prajurit-tni-penganiaya-wartawan-dihukum-3-bulan-bui-forum-jurnalis-ini-sangat-tak-adil-v8bESKHoTA.jpg Aksi solidaritas wartawan mengutuk aksi kekerasan TNI terhadap pekerja media di Kantor Kemenko Polhukam, Jakarta (Dede/Okezone)

MEDAN – Prajurit Satu Rommel P Sihombing, personel paskhas TNI Angkatan Udara dari Lanud Soewondo Medan divonis 3 bulan penjara karena menganiaya Array A Argus, jurnalis Harian Tribun Medan. Forum Jurnalis Medan (FJM) menilai, hukuman itu terlalu ringan dan tak memberi keadilan.

β€œIni sangat tidak adil. Vonis ringan itu akan menimbulkan preseden buruk, dan tidak akan memberikan efek jera. Oditur harus banding, pelaku juga harus didakwa dengan pasal pengeroyokan dan yang terpenting, Undang-Undang tentang kebebasan Pers,” kata Ketua FJM, Jonris Purba, di Warkop Jurnalis, Jalan KH Agus Salim, Kota Medan, Jumat (8/9/2017).

Penganiayaan terjadi saat Array bersama sejumlah rekannya sesama jurnalis, sedang meliput bentrokan berlatarbelakang sengketa tanah antara warga dan TNI AU dari Lanud Soewondo Medan, di Sari Rejo, Polonia, Kota Medan, pertengahan Agustus 2016.

(Baca juga: Duh, Prajurit TNI AU Penganiaya Wartawan di Medan Hanya Dihukum 3 Bulan Penjara)

Vonis ringan terhadap Pratu Rommel dibacakan Majelis Hakim Pengadilan Militer I-02 Medan yang diketuai Kolonel Budi Purnomo, dalam persidangan yang digelar di Pengadilan Militer I-02 Medan, di Jalan Ngumban Surbakti, Kota Medan, Rabu 6 September 2017 kemarin.

FJM meminta oditur dari Oditurat Militer Medan agar mengajukan banding atas vonis ringan dijatuhkan ke prajurit TNI AU tersebut. Permintaan itu didasari atas hukuman yang dinilai terlalu ringan dan terkesan penuh rekayasa.

Sementara Aidil Aditya dari Lembaga Bantuan hukum (LBH) Medan yang mendampingi korban mengaku, pihaknya tidak puas dengan hasil putusan yang dijatuhkan kepada terdakwa. Sebab Pratu Rommel hanya dikenai sanksi atas Pasal 351 saja tentang Penganiayaan. Sedangkan pasal lainnya yakni Pasal 170 KUHP tentang Pengeroyokan yang nyata-nyata terbukti di persidangan, tidak digunakan.

Β (Baca juga: Selain Penganiayaan, Oknum TNI AU Diduga Lecehkan Wartawati)

"Padahal dalam persidangan, terdakwa telah mengakui sendiri kepada majelis hakim bahwa ada melakukan pemukulan kepada korban dengan kursi plastik hingga patah, dan juga terdapat unsur pengeroyokan yang dilakukan bersama-sama, tapi nyatanya tindakan tersebut justru dihilangkan. Kami menganggap putusan ini ada yang aneh," tanda Aidil.

Aidil mengatakan, keanehan itu lah yang memunculkan kecurigaan adanya rekayasa persidangan yang dilakukan oleh institusi TNI AU. Tim Advokasi Pers Sumut pun akan terus mengawal kasus ini meski perkara yang dialami Array sudah ditutup di pengadilan militer, dengan mendesak Oditur Militer untuk melakukan banding.

"Kami akan mengawal bagaimana agar Oditur Militer melakukan upaya hukum kembali, terhadap apa yang di dakwanya, justru dinyatakan hakim tidak terbukti. Ini menyangkut marwah odmil,"tandasnya.

Β (Baca juga: Kasus Wartawan Dianiaya TNI dan Sulitnya Warga Sipil Mencari Keadilan)

Sebagaimana diketahui, sidang perdana penganiayaan jurnalis yang dialami Array A Argus, digelar 19 Juni 2017. Nyaris 1 tahun sejak kasus itu pertama kali bergulir.

Array menjadi korban penganiayan saat tengah menjalankan kerja jurnalistiknya meliput bentrokan antara masyarakat dengan sejumlah prajurit TNI AU di Kelurahan Sari Rejo, Polonia.

Korban dalam peristiwa tersebut sebanyak 6 jurnalis, dimana lima orang memberikan kuasa hukum kepada Tim Advokasi Pers Sumut dan sudah melakukan pelaporan ke POM AU yaitu Array Argus (Harian Tribun Medan), Teddy Akbari (Harian Sumut Pos), Fajar Siddik (medanbagus.com), dan Prayugo Utomo (menaranews.com), dan Del (matatelinga.com) satu-satunya korban wanita yang mendapat pelecehan. Sedangkan satu korban lainnya, yakni Andri Syafrin Purba (INews TV) memakai kuasa hukum dari Tim Pembela Muslim (TPM).

Kasus penganiayaan ini awalnya bisa menjerat pelaku dengan pasal berlapis. Diantaranya Pasal 351 jo Pasal 281 KUHP Jo Pasal 170 KUHP Jo. Pasal 18 ayat 1 UU No 40 Tahun 1999 tentang Pers. Namun belakangan, Oditur dari Oditurat Militer Medan hanya mendakwa Pratu Rommel, terdakwa dalam kasus itu, dengan Pasal 351 tentang penganiayaan. Pratu Rommel pun dituntut dengan hukuman penjara 6 bulan dan akhirnya divonis 3 bulan penjara.

(sal)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini