Sesampainya di Mesir, H Agus Salim meminta AR Baswedan menerjemahkan sebuah tbuku tentang tata cara diplomat-diplomat tentang cara berkenalan di Timur Tengah. Namun AR Baswedan malah menyelinap mencari informasi ke sana ke mari.
AR Baswedan ‘keluyuran’ untuk bertemu beberapa tokoh, sastrawan dan pers, sekaligus menyebarkan informasi tentang Indonesia. Nalurinya sebagai wartawan di masa pergerakan juga menggerakkan dirinya untuk mendengar dan mencatat tanggapan masyarakat Mesir soal kedatangan delegasi RI.
Mulanya H Agus Salim agak marah, namun setelah mengakui soal apa saja yang dilakukannya selama ‘keluyuran’ dan melihat sendiri hasilnya (masyarakat Mesir mulai mendukung RI), H Agus Salim mengurungkan amarahnya.
Berselang setelah bertemu para pemimpin Mesir, jadilah negeri yang terkenal akan Sungai Nil dan Piramida-nya itu jadi negara pertama yang mengakui kedaulatan RI baik de jure maupun de facto. Resminya pengakuan itu juga dituangkan dalam dokumen perjanjian persahabatan RI-Mesir.
Misi Penting Membawa Pulang Dokumen Berharga
Dokumen inilah yang kemudian dipercayakan kepada AR Baswedan untuk dibawa pulang ke Indonesia. Pasalnya H Agus Salim mesti menyusul Sutan Sjahrir untuk menghadap Perserikatan Bangsa-Bangsa dan tak ikut kembali ke Tanah Air bersama AR Baswedan.