Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Kisah Bapak Sembunyikan Jenazah Bayi di Tas Lantaran Tak Mampu Bayar Ambulans

Demon Fajri , Jurnalis-Minggu, 16 April 2017 |04:31 WIB
Kisah Bapak Sembunyikan Jenazah Bayi di Tas Lantaran Tak Mampu Bayar Ambulans
Aspin dan tas plastik yang digunakan untuk membawa jenazah putrinya lantaran tak mampu bayar sewa ambulans. (Foto: Demon Fajri/Okezone)
A
A
A

BENGKULU – “Maafkan bapakmu, Nak. Bapak terpaksa lakukan ini.'' Itulah sepenggal ucapan yang disampaikan ayah almarhum (alm) bayi Puti Putri, buah hati pasangan suami-istri (pasutri) Aspin Ekwadi dan Sri Sulismi, warga Desa Sinar Bulan, Kecamatan Lungkang Kule Kabupaten Kaur, Provinsi Bengkulu, saat memasukkan jenazah anaknya ke tas pakaian untuk dibawa ke kampung halaman.

Aspin terpaksa memasukkan jenazah anaknya ke tas pakaian untuk kemudian menumpang jasa angkutan umum lantaran tidak mampu membayar biaya jasa ambulans dari Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) M Yunus Bengkulu, sebesar Rp3,2 juta. Dengan menggunakan angkutan umum, bersama kakak perempuannya, Septi Asturida, Aspin membawa jenazah putrinya itu.

Kepada Okezone, Aspin menceritakan, saat itu istrinya Sri Sulismi dioperasi caesar saat kandungannya berumur delapan bulan di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kaur, Kabupaten Kaur, dengan menggunakan kartu BPJS.

Aspin menyampaikan, saat diperiksa dokter anak dalam kandungannya istrinya tersebut, divonis memiliki kelainan paru-paru dan jantung, sehingga harus dioperasi caesar oleh tim medis di RSUD Kaur, Kabupaten Kaur. Usai melahirkan, lanjut Aspin, tepatnya pada Kamis 6 April 2017 anaknya yang baru berusia satu hari itu dirujuk ke RSUD M Yunus Bengkulu untuk mendapatkan perawatan intensif.

Sementara istrinya, Sri Sulismi, masih dirawat di RSUD Kaur guna mendapatkan perawatan medis usai melahirkan secara caesar. Saat tiba di RSUD M Yunus, anaknya dirawat selama satu malam di ruang UGD. Tak lama berselang, alm Puti Putri dipindahkan ke ruang anak untuk penanganan bayi prematur.

''Waktu itu saya pergi ke Bengkulu, bersama kakak perempuan saya. Istri saya masih dirawat di rumah sakit Kaur,'' ulas Aspin, Sabtu (15/4/2017).

Satu hari usai mendapatkan perawatan di ruang prematur, sambung Aspin, nyawa anaknya tak dapat diselamatkan. Pada hari itu juga ia bersama kakak perempuannya hendak membawa jenazah anaknya ke kampung halaman untuk dikebumikan.

Saat itu, kata dia, dirinya bersama kakak perempuannya menanyakan biaya jasa mobil ambulans untuk membawa jenazah anaknya ke Desa Sinar Bulan. Sayangnya, saat ditanyakan kepada pihak RSUD M Yunus biaya jasa mobil ambulans mencapai Rp3,2 juta.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement