“Selang berapa bulan, ada perintah untuk hijrah (Siliwangi pindah dari Jawa Barat ke Jawa Tengah dan Yogyakarta akibat Perjanjian Renville 17 Januari 1948). Pasukan dan Pak Sentot ikut hijrah, tapi akhirnya saya disuruh pulang,” lanjutnya berkisah.
Kaswinah menceritakan, dia diperintahkan untuk tidak ikut hijrah oleh MA Sentot. Dia pun nurut dan akhirnya tetap tinggal bersama 5 rekan lainnya di Indramayu. Bukan karena ada tugas khusus, melainkan demi keselamatan keluarganya.
“Sudah dari kecil kenal Pak Sentot, termasuk keluarga saya karena memang dulu rumah kita dekat, tetanggaan lah. Pas ada perintah hijrah, saya dan teman-teman dari Subang sudah sampai Kuningan, disusul anak buah Pak Sentot lainnya, disuruh pulang jangan ikut hijrah,” ungkap Kaswinah.
“Disuruh Pak Sentot (via penyampai pesan), disuruh nemenin bapak saya. Bapak saya kan kepala desa. Katanya kalau Belanda masuk, nanti para kepala desa bakal dituduh pro-Belanda, takut dibunuh sama teman-teman (pejuang) sendiri. Akhirnya saya pulang berenam yang asli Indramayu juga,” sambungnya.