BENGKULU – Bengkulu tergolong dalam provinsi rawan bencana termasuk gempa tektonik dan tsunami, karena berada di zona subduksi (tumbukan) pertemuan lempeng aktif Indo-Australia dan Eurasia.
Terletak di sisi timur laut Samudra Hindia atau sekira 150 kilometer dari tumbukan pertemuan lempeng bumi, provinsi berjuluk Bumi Rafflesia itu memang rawan dilanda gempa dengan kekuatan kecil hingga besar yang bahkan berpotensi tsunami.
Kepala Kantor SAR Bengkulu, Agolo Suparto mengatakan, ada 241 desa dan kelurahan di pesisir pantai Bengkulu ditetapkan sebagai rawan bencana gempa. Provinsi yang berbatasan dengan Sumatera Barat itu terletak pada jalur sesar (patahan) semangko yang aktif bergeser.
''Patahan tersebut menyimpan energi yang besar. Jika suatu saat energi tersebut dilepaskan, maka akan menimbulkan gempa bumi,'' kata Agolo, Senin (8/5/2017).
''Jika energi tersebut terjadi secara tiba-tiba secara sekaligus, maka akan menimbulkan gempa dahsyat,'' sambung Agolo.
Agolo mengulas, pada 4 Juni 2000, Bengkulu sempat dilanda gempa dengan kekuatan, 7,3 skala Richter (SR). Gempa besar itu, dengan episentrum 4,7 Lintang Selatan-102 Bujur Timur, kedalaman 33 Km bawah laut posisi 100 km barat daya kota bengkulu.
Dampak dari gempa ini, jelas Agolo, mengakibatkan sekira 3.251 korban jiwa dengan 95 orang meninggal, luka berat 959 jiwa, luka ringan 2.207 jiwa dan merusak 46.394 bangunan.
Lalu, pada 12 September 2007, Bengkulu kembali digoncang gempa 7,9 SR, dengan titik episentrum di 4,5 LS-101, pada 159 Km barat daya Bengkulu, kedalaman 10 Km di bawah laut.
Bencana itu mengakibatkan menimbulkan 53 korban jiwa. 15 orang di antaranya meninggal, 12 orang luka berat, dan luka ringan sebanyak 26 jiwa. 67.191 bangunan rusak.
Terkait hal tersebut, lanjut Agolo, Kantor SAR Bengkulu mengambil kebijakan dengan melaksanakan siaga SAR selama 24 jam, koordinasi dengan instansi terkait, melengkapi dan menyiapkan sarana dan peralatan SAR dalam menanggulangi bencana gempa bumi, dan menyiapkan sumber daya manusia dalam melaksanakan operasi SAR.
''Strategi untuk menjalankan kebijakan itu, kita juga bekerjasama dengan instansi pemerintah dan organisasi masyarakat terkait untuk membantu dalam deteksi dini dan pemantauan,'' ujar Agolo.
''Kita juga mengadakan sosialisasi, tentang pengetahuan bahaya dan dampak gempa bumi kepada masyarakat. serta memberikan sosialisasi tentang pengetahuan kepada pelajar melalui kegiatan SAR go to school,'' sambung Agolo.
Upaya lainnya dalam budaya sadar bencana, sebut Agolo, tentunya adanya rencana kontinjensi, dalam pelaksanaan operasi pencarian dan pertolongan saat terjadi bencana gempa bumi di Bengkulu.
Dimana peran dari masing-masing instansi atau lembaga berpotensi SAR, terang Agolo, tentunya sangat penting dalam penyusunan rencana kontinjensi ini. Sehingga, kata dia, agar perencaan operasi pencarian dan pertolongan kedepan dapat terlaksana dengan baik.
''Rencana kontinjensi ini akan diaktifkan setelah memasuki tahap tanggap darurat,'' sampai Agolo.
Direktur Operasi dan Latihan Basarnas, Brigadir Jenderal (Marinir) Ivan Ahmad Riski Titus mengatakan, dalam tanggap darurat bencana alam terkhusus gempa bumi di Bengkulu, mesti adanya keterlibatan semua lapisan.
Selain itu, terang dia, tentunya dalam kondisi ini juga mesti diimbangi dengan alat-alat dalam penanganan bencana. Serta personel di suatu privinsi. Minimal untuk Tim SAR satu provinsi itu sebanyak 100 orang.
''Penanganan bencana ini tidak bisa bekerja sendiri. Jadi, semuanya harus terlibat. Baik itu, TNI, Polri, SAR, BPBD serta intansi lainnya, sehingga upaya penanganan bencana bisa teratasi,'' pungkas Ivan.
(Salman Mardira)