Di dalamnya ada mimbar kuno berukuran 2,5 meter, yang terbuat dari kayu bermutu tinggi, bentuknya berciri khas Hindu. Pintu dan puncak mimbar mengerucut dipenuhi ukiran dekorasi bunga-bunga berciri khas perpaduan Persia dan Hindu.
Sekelilingnya juga ada ukiran kaligrafi disertai angka Arab bertuliskan 1276 H. Tahun Hijriah yang setara dengan 1858 M itu diyakini sebagai tahun pembuatan mimbar tersebut.
Di belakang masjid, selain ada kolam untuk berwudhu, juga ada sebuah peudana (guci) kuno peninggalan Hindu. Air yang ada dalam guci itu dipercaya keramat. Warga yang berkunjung atau melepas nazar di masjid ini percaya membasuh muka dan kaki dengan air dalam guci ini, membawa berkah.
Air bekas menyucikan diri ini tertampung pada lubang yang dikorek rapi di lantai. Air dari dalam lubang itu juga sering diambil warga untuk membasuh mata karena dipercaya bisa menyehatkan indera pengelihatan.
Selain itu, tutur Faisal, di dalam masjid ini juga tersimpan sejumlah kitab-kitab kuno dan piring-piring keramik peninggalan Kerajaan Indrapurwa. Piring-piring tersebut sering digunakan saat ada ritual kenduri di masjid.
Mimbar kuno di Masjid Indrapurwa (Salman Mardira/Okezone)