Karena jumlah penduduk yang terus bertambah, masjid ini tak mampu lagi menampung jamaah. Menurut Faisal, pada 1990-an, warga membangunan masjid berkonstruksi beton di sampingnya, tanpa mengganggu bangunan asli. Aktivitas seperti Salat Jumat atau salat berjamaah lima waktu dipusatkan di bangunan baru.
Namun, musibah datang pada Minggu, 26 Desember 2004. Gelombang tsunami meratakan bangunan masjid dan melenyapkan semua peninggalan sejarah di dalamnya. Rumah warga di sekitarnya ikut rata dengan tanah.
Sekira 600 orang warga Lambadeuk menjadi korban dalam musibah ini. “Dari sekitar 900 orang penduduk saat itu, hanya sekitar 300 yang selamat,” ujar Faisal.
Tak ada lagi kitab kuno, guci, piring-piring keramik dan tongkat khatib yangterbuat dari kayu hitam peninggalan Kerajaan Indrapurwa. Satu-satunya yang tersisa dari amuk laut adalah mimbar. Mimbar ini ditemukan tercampak di kaki bukit Lampague hampir satu kilometer dari pertapakan masjid. Kondisinya tak lagi utuh. Warga kemudian memperbaikinya untuk mempertahankan jejak sejarah Indrapurwa.
“Anda bisa lihat kayu yang kami gunakan sangat jauh berbeda dengan kayu bawaannya yang hitam mengkilap. Itu kayu zaman dulu yang tidak bisa kami temukan lagi sekarang. Kualitasnya sangat bagus,” tukasnya.
Masjid Indrapurwa dibangun kembali oleh Jepang dengan konstruksi beton setahun pascatsunami. Bentuk dan arsitekturnya mengikuti gaya modern, tak lagi mengadopsi gaya lama yang berciri khas Indra.
Di sudut pagar masjid didirikan tugu setinggi 9 meter untuk menggambarkan ketinggian gelombang tsunami di sana. Di sampingnya ada sebuah prasasti yang berisi profil singkat Masjid Indrapurwa, tertulis dalam bahasa Aceh, Indonesia, dan Inggris.
(Salman Mardira)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.