Share

Petaka Air Sungai Brantas yang Tak Lagi Bermutu

Hari Istiawan, Okezone · Rabu 06 September 2017 16:00 WIB
https: img.okezone.com content 2017 09 06 519 1770505 petaka-air-sungai-brantas-yang-tak-lagi-bermutu-JGQ7qyT8DA.jpg Industri di hilir Sungai Brantas (Hari Istiawan/Okezone)

Dalam sebulan terakhir jurnalis Okezone Hari Istiawan menelusuri tingkat pencemaran Daerah Aliran Sungan (DAS) Brantas di Jawa Timur serta dampaknya bagi kesehatan masyarakat yang tinggal di hulu, tengah dan hilir. Kami menyajikan hasil liputannya dalam beberapa seri, berikut laporannya.

***

MALANG - Tumpukan sampah terlihat menggunung di tepi Sungai Brantas. Tepatnya di bawah jembatan Muharto, Kota Malang, Jawa Timur. Sampah-sampah ini mengumpul di beberapa titik di kiri dan kanan sungai. Sampah didominasi popok bayi bekas, sampah plastik, limbah ternak, dan sampah organik. Jika musim hujan, sampah di sepanjang hulu Brantas mulai Kota Batu hingga Kabupaten Malang menumpuk di Bendungan Sengguruh, Malang.

Kondisi yang berlangsung setiap tahun ini membuat Lembaga Kajian Ekologi dan Konservasi Lahan Basah (Ecoton) menggelar kampanye bersih-bersih sampah popok di Sungai Brantas sejak Juli hingga Agustus 2017. Di Kota Malang, sejumlah aktivis ini terlihat berpakaian putih-putih lengkap dengan masker dan alat pelindung diri lainnya. Mereka memulai kampanye dari kawasan hilir sungai yang ada di Surabaya dan berakhir di Kota Malang.

Tanpa canggung, rombongan yang terbagi dalam dua kelompok ini mulai beraksi. Dua orang turun ke Sungai Brantas yang sedang surut karena kemarau. Tepatnya di bawah Jembatan Muharto, Kota Malang. Mereka lalu mengambil popok bekas dengan tangan yang sudah terbungkus sarung pengaman.

Layaknya mengambil barang “berharga” di jalanan, satu per satu popok yang tersangkut tiang jembatan maupun di tepi sungai, dimasukkan dalam karung. Setelah penuh popok, dua orang lainnya yang berada di atas jembatan menarik karung tersebut dengan seutas tali, yang ditambatkan pada pengerek. Popok-popok bekas ini lalu dibeber di trotoar jembatan sebelum dimasukkan ke dalam tong sampah yang mereka bawa. “Sampah di sini 85 persen popok bekas,” kata Prigi Arisandi, Direktur Eksekutif Ecoton, saat di jembatan Muharto, Kota Malang, akhir Agustus lalu kepada Okezone.

Direktur Eksekutif Ecoton, Prigi Arisandi menyampaikan, sebanyak 37 persen sampah di Sungai Brantas adalah popok bayi. Ia memperkirakan lebih dari satu juta popok bayi dibuang di sungai ini setiap hari. Angka itu didapat dari hasil survei yang dilakukan Ecoton pada awal Juli 2017.

(foto Hari/Okezone)

Dari 100 responden yang tinggal di tepi sungai di wilayah Sidoarjo, Surabaya, dan Gresik, sebanyak 89 persen responden menyatakan membuang limbah popok di tepi sungai. “Apabila meleset saat membuang ke tepi sungai, dan atau hujan turun, limbah popok masuk ke sungai. Apalagi jika terjadi banjir,” kata Prigi.

Dari beberapa komentar responden, kata Prigi, model pembuangan popok yang sering dilakukan adalah dengan membuangnya secara bongkokan alias membungkus beberapa popok sekali pakai dalam kantong plastik. Biasanya satu kantong berisi lebih dari 6 buah popok kotor karena tinja dan urine bayi. Sebanyak 75 persen sisanya lebih suka membuang satu persatu.

Masih menurut survei Ecoton, sebanyak 61 persen narasumber mengaku menggunakan lebih dari 4 popok sekali pakai per hari. Sedangkan 36 persen menggunakan 2-4 popok sekali pakai per hari. Prigi mengatakan tingginya penggunaan tampon bayi, yang tidak diikuti dengan sarana penampungan dan pengelolaan limbah ini, menambah beban lingkungan yang sudah ada.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Timur (2015), populasi anak di bawah usia 5 tahun adalah sebesar 2.929.890 anak, yang merupakan pasar potensial bagi produk popok sekali pakai Jawa Timur. Dengan asumsi setidaknya 42.16 persen populasi penduduk Jatim tinggal di wilayah Sungai Brantas (BBWS Brantas, 2011), dan penggunaan minimal 4 popok per hari, maka setidaknya ada 4.940.966 popok bekas pakai per hari yang mencemari sungai ini. (Lihat tabel)

 

Tidak ada data yang jelas terkait besaran diapers bekas pakai yang masuk ke tempat pembuangan akhir (TPA) atau yang yang masuk ke sungai. “Tapi hasil evakuasi popok bekas pakai selama tiga hari yang dilakukan Ecoton di beberapa titik terkumpul 2,5 kuintal popok bekas pakai yang berhasil diangkat dari sungai,” kata Prigi dengan nada suara agak besar dari sebelumnya.

Sebenarnya tak hanya sampah popok bekas bayi saja yang menghiasi Sungai Brantas mulai hulu hingga hilir. Penelitian Ecoton pada awal Juli 2017 yang dilakukan dengan melakukan transek ukuran 1x1 meter terungkap, ada empat jenis sampah yang berhasil diklasifikasikan satu meter persegi itu. Metode transek adalah pencuplikan contoh populasi, salah satu metode pengukuran yang paling mudah dilakukan, namun memiliki tingkat ketelitian dan akurasi lebih tinggi.

Klasifikasinya dibedakan menjadi empat kelompok. Kelompok pertama terdiri dari tas kresek, tali raffia, sachet, bungkus mie atau snack, botol plastik, dan lain-lain. Sedangkan kelompok kedua adalah popok bayi. Kelompok ketiga limbah organik seperti sayuran, daun, buah atau kulit pisang, sisa makanan, dan bangkai binatang dan kelompok keempat berupa material keras organik atau nonorganik seperti bolam, karet, kain, mika, kaca. Penelitian klasifikasi sampah yang menumpuk dan mengapung ini dilakukan di Kali Surabaya, sepanjang daerah Karang Pilang, Jagir, Kayun dan Gunungsari, hilir dari Sungai Brantas.

Simpulan yang dihasilkan, pencemaran yang muncul sebagian besar atau 43 persen sampah plastik, 37 persen popok bayi. Sedangkan sampah organik sejumlah 7 persen dan 13 persen sampah lain-lain.

Popok masih menjadi komponen yang kasat mata menjadi penyumbang signifikan dari pencemaran sungai. Padahal sampah jenis ini membutuhkan waktu terurai selama 400 tahun. Selain itu bahan kimia yang digunakan dalam popok sekali pakai sangat berbahaya ketika mencemari Sungai Brantas.

Indonesia Water Community of Practice (IndoWater CoP) yang mengungkapkan data detail kandungan kimia berbahaya yang larut di Sungai Brantas akibat sampah popok bekas, plastik dan juga pertisida. Ancaman bahaya popok bekas bisa dilihat dalam gambar di bawah ini.

 

Koordinator Nasional IndoWater CoP, Riska Darmawanti menjelaskan, kandungan senyawa kimia yang berasal dari paparan seperti sampah popok bekas, penggunaan pestisida, dan limbah industri disebut Senyawa Pengganggu Hormon (SPH) yang mampu mengganggu keseimbangan hormon dan berdampak terhadap kesehatan hewan dan manusia.

Ia mengatakan negara-negara di Amerika dan Uni Eropa mulai menaruh perhatian terhadap SPH sejak tahun 1940-an. Sebenarnya pemerintah mulai menaruh perhatian khusus terhadap kelompok SPH tertentu, setelah melakukan ratifikasi Konvensi Stockholm melalui undang-undang RI nomor 19 Tahun 2009. “Sayangnya, inventarisasi SPH yang dilakukan belum terintegrasi dan tersosialisasi kepada masyarakat,” kata Riska.

Tercemar Berat

Selain sampah popok, IndoWater Cop bersama Ecoton pernah melakukan pengukuran konsentrasi PCB (polychlorinated biphenyls) dalam perairan (baik air maupun sedimen) di Brantas hilir atau Surabaya dan sekitarnya. Pengukuran dilakukan dalam bentuk Absorbable organic halides (AOX). AOX mengandung beragam senyawa terhalogenasi, yaitu pemasukan halogen ke dalam senyawa organik, seperti polychlorinated bihenyls (PCB), dan dioksin atau furan.  

Sejauh ini, KLKH belum menetapkan AOX untuk industri pulp dan kertas, sehingga riset menggunakan baku mutu German untuk air limbah sebesar 0.1 miligram per liter dan hasilnya lima industri yang diteliti konsentrasi AOX melebihi baku mutu. (Lebih jelasnya lihat tabel)

“Penetapan dan pengendalian AOX ini penting karena sifat racunnya tidak hanya berbahaya bagi lingkungan, tapi juga organisme akuatik, serta dapat berdampak terhadap kesehatan manusia,” ujar Riska kepada Okezone.

 Sumber: Ecoton dan IndoWater Cop

Keterangan: industri yang terdapat dalam tabel merupakan industri pulp dan/ kertas Mikroplastik dan AOX termasuk dalam kategori Senyawa Penganggu Hormon (SPH).

 Manajer Program dan Penelitian Ecoton, Daru Setyorini menyebutkan sumber-sumber pencemaran di sepanjang Sungai Brantas terbagi dalam tiga kawasan, yakni hulu, tengah, dan hilir. Di bagian hulu bersumber dari penggunaan pestisida yang berlebihan dan juga limbah domestik rumah tangga seperti detergen, popok bekas, dan sampah rumah tangga yang tidak dibuang ke TPA.

Di bagian tengah dipengaruhi industri seperti gula dan kertas. Limbah industri ini juga sering menjadi masalah. Apalagi pengolahan limbah industri, menurutnya, belum menjadi prioritas dan sering “kucing-kucingan” dengan penegak hukum.

Di bagian hilir, yang paling parah karena sekitar 60 persen sumber pencemarannya bersumber dari industri dan 40 persen dari limbah rumah tangga. “Limbah rumah tangga ini terus-menerus setiap hari, sedangkan industri ini kadang tiba-tiba membuang limbah dalam jumlah yang bervariasi,” kata Daru Setyorini.

Data dari Perusahaan Umum Jasa Tirta I, yang salah satu tugasnya mengelola daerah aliran Sungai Brantas, setiap bulan mengeruk ratusan meter kubik sampah dari wilayah Malang Raya (Kabupaten Malang, Kota Malang, Kota Batu) yang terkumpul di Bendung Sengguruh.

Sampah Bendung Sengguruh saja mencapai 100 ribu meter kubik per bulan. “Ini masih dari wilayah Malang Raya saja,” kata Direktur Utama Perum Jasa Tirta I, Raymond Valiant Ruritan dalam kesempatan wawancara medio Agustus 2017.

Deputi Operasional II Perum Jasa Tirta I, Ulie Mospar Dewanto ketika ditemui pada kesempatan berbeda mengklaim kasus-kasus pencemaran di Sungai Brantas menurun. Meski begitu ia mengakui ada sumber-sumber pencemaran yang belum bisa dihilangkan, baik dari industri maupun limbah domestik. Meski sumbangan pencemaran rutin dari limbah domestik mencapai 50 persen, Ulie menambahkan, “Yang berasal dari industri tidak kalah berbahaya.”

Ia menyebut, karakteristik sumber pencemaran industri memang secara tiba-tiba dan dalam jumlah besar, waktunya pun singkat. “Curi-curi buang air (limbah) yang tidak melalui olahan. Kewalahannya kami di situ,” katanya.

Tak heran berdasarkan data kualitas air DAS Brantas hasil pemantauan rutin Perum Jasa Tirta I selama 2012-2016, dengan parameter utama yang diukur adalah parameter pencemar organik, antara lain kadar oksigen terlarut atau dissolved oxygen (DO), menunjukkan kualitas baku mutu beragam.

Pada bagian hulu, mulai Waduk Sutami, Kabupaten Malang sampai Jembatan Tambangan Kesamben, Blitar, parameter DO tidak memenuhi baku mutu air kelas 2, sesuai peruntukan kelas airnya, yang mempersyaratkan DO di atas 4 miligram per liter.

Sedangkan kualitas air mulai Brantas tengah, di Jembatan Ngrombot, Kabupaten Nganjuk hingga Brantas Hilir di Cangkir Tambangan, Gresik, kualitas air menunjukkan peningkatan signifikan. Namun, di bagian hilir mulai dari Bambe Tambangan, Gresik, sekitar muara Kali Tengah, hingga Jembatan Petekan, Surabaya, parameter DO tidak memenuhi baku mutu air kelas 2 sesuai peruntukan kelas airnya. Sebabnya tak lain parameter DO menunjukkan di bawah 4 miligram per liter.

 

Data Kualitas Air 2012-2016 yang dikeluarkan Perum Jasa Tirta I

Sumber: Perum Jasa Tirta I

 Koordinator Nasional IndoWater CoP, Riska Darmawanti menambahkan, tidak hanya limbah industri, pestisida dalam perairan adalah permasalahan yang sangat serius, terutama dalam air tanah. Sebab, kecepatan degradasi pestisida dapat berkisar antara beberapa bulan. Tetapi paling umum proses degradasi membutuhkan waktu tahunan hingga ukuran dekade. Lantaran air tanah adalah lingkungan yang bebas oksigen, sehingga kurang efektif untuk mendegradasi pestisida kimia.

Keberadaan pestisida pada air permukaan, menurut Riska, meski dalam konsentrasi yang sangat rendah, akan membahayakan siklus hidup organisme akuatik, seperti alga dan ikan. Mengonsumsi dalam jangka panjang air minum, buah, dan sayuran yang mengandung pestisida, meski dalam konsentrasi yang sangat rendah meningkatkan risiko kesehatan, seperti kanker.

Karena itu, ia menegaskan pencemaran air permukaan seharusnya tidak dikelola dengan sambil lalu. “Pencemaran baik pestisida maupun senyawa lainnya, mengurangi kebermanfaatan sungai dan sumberdaya biologisnya,” katanya.

Riska menyebut, ada penelitian yang menemukan kandungan dichloro diphenyl trichlorethane (DDT) yang termasuk dalam kelompok pestisida oil concrentrat (OC). Pestisida ini kelompok senyawa hidrokarbon terklorinasi yang digunakan untuk pengendalian hama dan nyamuk tahun 1940 hingga 1960. Yang saat ini penggunaannya sangat dibatasi untuk pengendalian hama agrikultur.

Pelarangan penggunaan DDT sudah dilakukan semenjak tahun 2007 melalui Permentan Nomor 02/PerMenTan/OT.140/21/2007. “Namun monitoring terhadap residu, pengendalian aplikasi dan peredarannya sangat lemah,” ujarnya.

Penelitian DDT di sekitar hulu Sungai Brantas (Kota Batu) yang dilakukan Pusat Sarana Pengendalian Dampak Lingkungan (Pusarpedal) pada 2012 menunjukkan, metabolit DDT terdeteksi di atas limit deteksi alat. Meski dilarang, kenyataannya petani masih menggunakan DDT. “Ini yang berbahaya,” kata Riska.

Tak heran jika dalam dalam laporan Statistik Kementerian KLHK Tahun 2015 yang diterbitkan pada tahun 2016 menunjukkan bahwa Sungai Brantas mulai tahun 2013-2015 statusnya tercemar berat.

Tabel Status Mutu Air 2013-2015 di Jawa Timur

 

Sumber: Statistik Kementerian KLHK Tahun 2015

 Daru Setyorini tak heran dengan status ini. Mengutip data tahun 1999 yang diperoleh dari Perum Jasa Tirta I menyebutkan total beban pencemaran Sungai Brantas mencapai 330 ton per hari. Rinciannya limbah domestik sebesar 205 ton per hari, dan limbah industri mencapai 125 ton per hari.

Jika dilihat per wilayah, sumbangan limbah domestik di Brantas Hulu mencapai 127 ton per hari dan Brantas Hilir 78 ton per hari. Sedangkan limbah industri di Brantas Hulu sebanyak 49 ton per hari dan di Brantas Hilir sebesar 76 ton per hari. Limbah ini mencemari sungai yang panjangnya kurang lebih 320 kilometer dan menghidupi sekitar 16 juta jiwa penduduk di 9 kabupaten dan 6 kota. Di antaranya, Kota Batu, Kota Malang, Kabupaten Malang, Blitar, Tulungagung, Kediri, Jombang, dan Mojokerto, yang kemudian bercabang melewati Surabaya hingga ke Gresik. (Bersambung)

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini