Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Memoar Pilu Pengungsi Rohingya saat Pembantaian Militer Myanmar Terjadi

Erie Prasetyo , Jurnalis-Jum'at, 08 September 2017 |06:32 WIB
Memoar Pilu Pengungsi Rohingya saat Pembantaian Militer Myanmar Terjadi
Pengungsi Rohingya di Medan (Foto: Erie/Okezone)
A
A
A

MEDAN - Bagi suku Rohingya, bukanlah hal yang mudah untuk kabur dari Myanmar saat genosida terjadi. Mereka butuh perjuangan yang kuat demi bebas dari kekejian militer Myanmar dan kelompok ekstrimis.

Kamal Hussein Arakani (28) adalah seorang pemuda Rohingya yang berhasil kabur dari kejaran militer Myanmar dan kelompok ektrimis. Dia kembali mengenang masa pahit yang dialaminya saat ditemui di tempat penampungan Rohingya di Jalan Jamin Ginting, Kota Medan, Sumatera Utara.

Dia menceritakan kejadian yang dialaminya dengan bahasa Indonesia yang belum fasih dan terkadang bercampur dengan bahasa Inggris.

“Bagi kami hal yang biasa jika militer Myanmar dan kelompok ekstrimis Buddha membunuh Rohingya atau memukuli kami. Tapi yang terjadi belakangan ini adalah genosida,” ujar Kamal di lokasi penampungan pada Rabu 6 September 2017 kemarin.

Saat diwawancarai, Kamal menunjukkan kedua kakinya yang penuh dengan bekas luka. Tak terhitung berapa jumlah luka yang sudah berbekas hitam itu. Luka-luka itu didapatnya pada tahun 2015 silam.

“Ini bekas luka karena saya ditangkap militer. Kaki saya ditendang dan pukul pakai senjata,” kenangnya.

Kendati demikian, Kamal masih merasa beruntung karena hanya mendapat banyak luka di kedua kakinya. Pasalnya, teman-temannya di Myanmar ada yang kakinya dipotong saat ditangkap militer.

Halaman:
      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement